Membungakan Kembali Amarilis

Pertama kali lihat di post temen di IG, tampilan terlihat lebih atraktif jika dibandingkan dengan amarilis yang pernah kulihat sebelumnya. Mupeng dong, secara sudah terbukti sebagai plant hoarder je, hehehe… Dari informasi yang aku dapat amarilis-amarilis cantik itu hasil impor, bukan produk lokal, yang berimbas pada harganya yang lumayan mahaaaal…. Kepengen sih tetep, tapi jadi kepikiran bisa gak amarilis impor bertahan hidup dan berbunga di Bekasi yang panaaasss… Harga mahal lebih nyeseklah kalau gagal, qiqiqi…

Tapi dari hasil ngobrol dengan temen yang sudah mencoba menanam dan juga dengan seller-nya langsung, jadi lumayan yakin kalau umbi amarilis impor itu bakalan bisa berbunga di Bekasi. Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah sekali berbunga, bakalan bisa berbunga ulang gak tuh ? Atau bakalan habis perkara end of story gak berbunga lagi ? Kan rugi bangeeeet… mosok beli mahal-mahal bakalan habis manis berlanjut nangis… Sekali berbunga doang ? Oh tidaaaak….

Dari penjelasan seller-nya, amarilis bisa berbunga ulang dengan beberapa perlakuan khusus. Penjelasannya sih cukup mudah dipahami, tapi sebagai simbok-simbok jaman now, gak sah dong kalau gak googling sana-sini dulu. Alhamdulillah nemu beberapa tulisan yang menambah wawasan dan memberi pencerahan. Sip, jadi yakin doong, untuk ikut menanam amarilis impor yang cakep-cakep itu.

Pertama kali tanam hasilnya sungguh sangat membahagiakan, hahaha….

Setelah selesai berbunga, dalam arti seluruh kuncup sudah melewati tahap mekar lalu layu, dimulailah proyek percobaan pembungaan ulangnya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memotong tangkai bunga yang sudah layu, sampai pangkal dan menyisakan daunnya untuk tetap tumbuh. Lalu biarkan tanaman menggendutkan diri dulu di media tanam, dalam jangka waktu kurang lebih 5 sampai 6 bulan. Siram secukupnya, dan jika dirasa perlu bisa ditambahkan pupuk. Aku sendiri hanya menyiram tanaman pagi dan sore saja, tidak menambahkan pupuk.

Kalau yang dari aku baca, umbi yang ditanam akan siap di-dorman alias diistirahatkan sebelum ditanam ulang apabila daun-daunnya mulai terlihat layu dan lemas. Teorinya sih begitu, ning lha kok setelah 6 bulan berlalu, tanaman amarilis-ku tidak menampakkan tanda-tanda lemas lunglai minta dibongkar. Tetap menumbuhkan daun yang segar bugar ijo royo-royo, piye kuwi jal…. Yang terlihat malah neng amarilis ini sibuk memperbanyak diri dengan muculnya pokok-pokok daun kecil di sekelilingya, nongol anakannya.

Dilema dah tuh… pengen bongkar umbinya, tapi takut menyakiti bayi-bayi amarilis disekitar tanaman induknya, ihiksss….

Tapi yang namanya niat, harus tetap dilaksanakan dong ya. Setelah mundar-mundur gojak-gajek beberapa kali, akhirnya eksekusi dilaksanakan juga.

Dan inilah hasilnya, satu indukan amarilis dengan 2 anakan lepas dan 1 anakan yang nemplok di tanaman induk. Agak ragu juga sih, beneran yang 2 anakan lepas itu beneran asalnya dari induk yang di pot itu atau bukan. Ewww… kasihan banget ya, judulnya jadi Anakan Yang Diragukan, atau ( kemungkinan ) Anakan Yang Tertukar… sinetron banget dah tuh.

Langkah selanjutnya adalah tanam ulang dulu anakan amarilis yang tercabut sebelum waktunya itu, tssaaaaah… dengan harapan dan doa agar mereka kelak bisa tumbuh dewasa berguna bagi nusa dan bangsa, eh berguna bagi tukang kebunnya, alias berbunga cantik jelita. Setelah upacara tanam ulang anakan selesai, langsung lanjut proses dorman umbi induknya.

20171105_160924106514423.jpg

Bersihkan umbi induk, potong daun sampai kira-kira 2-3 cm dari pangkal umbi. Potong juga akar-akarnya hingga menyisakan 2-3 cm. Keringkan lalu bungkus dengan kertas atau koran bekas. Selanjutnya simpan dalam kulkas alias lemari pendingin. Simpan di kulkas-nya ya, jangan nyasar ke freezer. Jangan lupa juga, kalau yang dibungkus kertas koran dalam kulkas itu adalah umbi amarilis, bukan bawang bombay bakal masak sop. Yang perlu diperhatikan adalah jangan meletakkan apel di dekat umbi simpanan kita, konon gas yang dikeluarkan apel bisa mengganggu proses pembungaan ulang amarilis.

Penyimpanan antara 6 sampai 8 minggu sih menurut yang aku baca. Tapi aku gak pede, jadi ada program extended version sampai hampir 4 bulan… Timbang gojak-gajek yo wis ditambahi wae. Setelah nyaris 4 bulan, keluarkan umbi dari kulkas, buka bungkus kertasnya, lalu angin-anginkan beberapa waktu dalam suhu ruangan. Setelah itu umbi kutanam ulang seperti saat pertama kali aku tanam dulu. Gunakan media tanam yang gembur dan porous, karena umbi amarilis tidak suka media yang becek dan tergenang. Untuk sinar matahari, tidak perlu penuh sepanjang hari. Bahkan pot amarilis kutaruh di teras rumah yang sebenernya nyaris tidak kena sinar matahari langsung, tapi tetap dalam kondisi terang benderang. Siram secukupnya, jaga jangan sampai tergenang.

Alhamdulillah setelah kira-kira satu minggu mulai tampak tanda-tanda kehidupan….

Daun duluan yang nongol, selanjutnya baru nongol tanda-tanda bakal bunga.

Bahagianya melihat penampakan bakal bunga berjejalan begini. Sepintas memang ukuran sedikit lebih kecil dari bakal bunga sebelumnya, tapi tidak mengurangi senangnya hati ini.

Daaaan… setelah menunggu beberapa hari, akhirnya mekar juga amarilis cantik yang satu ini.

.

Iklan

Pekan Budaya SD Melati Indonesia

Ada banyak cara untuk memperkenalkan aneka budaya Indonesia pada anak-anak. Salah satunya adalah melalui Pekan Budaya Indonesia yang diselenggarakan di Sekolah Melati Indonesia mulai tanggal 19 sampai 24 Pebruari 2017. Menarik kalau menurutku sih, dengan pekan budaya ini anak-anak diajak melakukan aktivitas yang langsung berkaitan dengan budaya Indonesia. Tidak hanya sekedar membaca uraian mengenai budaya Indonesia melalui buku saja.

Setiap kelas mendapat satu tema khusus berdasar salah satu budaya suku bangsa di Indonesia. Kelas Fachri kebetulan mendapat jatah Budaya Bali. Jadi deh satu kelas plus guru dan emak-emaknya sibuk mendekor kelas dengan nuansa Bali. Emak-emak kok ikut sibuk ? Ya iya dong deh… namanya juga emak-emak, hahaha…. Tapi memang diperbolehkan dengan syarat anak-anak tetap dilibatkan. Dan dekor pun disyaratkan menggunakan barang-barang daur ulang.

 

 

 

 

Selama pekan budaya berlangsung kegiatan belajar tetap berjalan. Hanya ada beberapa penyesuaian waktu untuk beberapa kegiatan lomba seperti lomba literasi, lomba fashion show, lomba mewarnai dan lomba memasak yang mengangkat budaya sebaga temanya.

Lomba mendongeng cerita daerah

 

 

Lomba mewarnai

 

 

Lomba fashion show, Fachri ikut dengan kostum den bagus jowo, hehehe…

 

 

Lalu ada lomba memasak masakan daerah, untuk yang satu ini jelas melibatkan para emak lah ya, hehehe…

 

 

 

 

 

Dan sebagai puncak acara, pada hari Sabtu 24 Pebruari 2017, diselenggarakan pentas seni. Masing-masing kelas menampilkan tarian dari daerah yang diwakili. Jadi deh tuh, Fachri kebagian peran sebagai penari Bali.

 

 

screenshot_20180225-203451520962609.jpg

 

 

 

 

.

Tentang Kebun

Gak tau mimpi apa, pekan kemarin kebun di rumah dapet kehormatan diliput JawaPos TV. Masup tipi ciiing, hahaha… norak yew. Ya mayan surprise juga lah, secara kebon cuma sak uprit gitu, gak kelasnya kebun keren berhektar-hektar penuh bunga aneka warna, ehem…. Tapi mungkin memang yang ingin diliput adalah jenis kebun rumahan dengan nara sumber emak-emak yang memang hobinya berkebun. Sooo… jadilah kebun Ciketing yang ketiban sampur masuk liputan.

Kalau ngomong soal luas, dengan ukuran kira-kira 6,5 x 5 meter kebunku memang bukan termasuk kebun yang luas. Tapi untuk skala perumahan menengah di Bekasi sudah cukup lumayanlah, lumayan lega untuk nanem beberapa macam tumbuhan dan njejerin beberapa pot. Walapun kalau nurutin penginan sih maunya akuisisi kebon tetangga sebelah juga, wkwkwk…. Ya begitulan impen-impen emak-emak  maruk berkebun, banyak mau tapi belum tentu mampu, qiqiqi….

Dari awal membuat kebun, memang sudah diniatkan untuk membuat kebun bunga. Sejalanlah lah ya dengan kesenenganku pada tanaman berbunga. Tapi seperti yang sudah banyak diketahui, umumnya tanaman berbunga cantik hanya bisa tampil maksimal di dataran tingi yang berhawa syeeejuuuuk. Sementara itu posisi Bekasi yang berada di 19m dpl  menghadirkan limpahan hawa fanaasssh nyaris di setiap waktu. Jadi, kudu pinter-pinter pilih tanaman berbunga yang bisa tumbuh baik pada kondisi hawa panas Bekasi tercinta ini.

Sampai saat ini aku cukup puas dengan pilihan Kembang Sepatu, Soka, Vinca dan Mossrose yang lumayan mendominasi kebunku. Jenis-jenis tanaman berbunga diatas lumayan rajin berbunga, dan yang penting tidak menuntut high maintenance life stye, hihihi…. ya maklumlah, tukang kebon angin-anginan, kadang rajin, seringnya males. Untuk tambahannya ada tecoma stans, bauhinia cockiana, bougenville, lollypop plant dan beberapa pohon mawar yang sudah terseleksi bisa tetap berbunga di hawa panas. Oh ya, saat ini aku juga sedang belajar sabar memelihara anggrek, tanaman berbunga cantik yang lumayan perlu ilmu untuk pemeliharaannya.

Untuk centil-centilannya, uhuksss… aku memilih tema shabby chic garden. Rasanya pas aja dengan cita-cita kebun bungaku, karena sependek yang aku tahu, shabby chic garden bisa di-identik-kan dengan tebaran bunga dimana-mana. Tinggal menambahkan beberapa elemen taman dengan warna-warna lembut dan/atau sentuhan shabby alias mbladus. Lah, jadi kebanyakan ngomong nih, bosen lah ya, qiqiqi…. yuk lah tengok kebonnya aja….

 

20180118_1055371325571313.jpg

 

20180118_2056011844202715.jpg

 

20180126_145400840245029.jpg

 

Point of interest memang di bangku taman dengan atap lengkung itu, yang dicita-citakan untuk rambatan tanaman berbunga. Bakalan cantik banget kan, kalau lengkungan itu dipenuhi bunga cerah ceria…. Untuk saat ini aku menanam Morning Glory warna biru di posisi itu. Tapi memang butuh waktu untuk mewujudkan impian lengkung penuh bunga, tanaman gak bisa diburu-buru dan berkebun memang butuh kesabaran.

Selanjutnya, beberapa foto detail kebun yang aku tambahkan secara bertahap sesuai kemampuan dompet, hehehe….

 

20180118_073342822331564.jpg

 

20180101_085705177083567.jpg

 

wp-1516953480621..jpg

 

20180122_071929429647675.jpg

 

img_20171219_075840_513582306796.jpg

 

20180127_07485938544689.jpg

 

 

20180127_081802-12120307972.jpg

 

img_20171210_082129_858788373237.jpg

 

img_20171028_101903_266540189590.jpg

 

img_20170924_093828_7061320736397.jpg

 

20180118_1329451335425113.jpg

 

img_20170806_104415_495336083715.jpg

 

img_20170222_204710_7471392147762.jpg

 

screenshot_20180127-084059291444428.jpg

 

img_20180106_171804_9631698000535.jpg

 

img_20180114_162509_721985455552.jpg

 

20180127_0832501208834956.jpg

 

20180127_073513376879871.jpg

 

Walaupun kecil alhamdulillah bisa menyejukkan mata dan hati, cukup nyaman untuk tempat menikmati teh di sore hari…

so ? berkebun yuk…. 🙂

 

 

c360_2018-01-18-09-20-52-731834857601.jpg

 

 

 

 

 

.

The Sewing Room, Joan Elliot

Langsung naksir begitu lihat chart ini, warnanya itu lhooo, Joan Elliot banget… gambarnya juga cantik, apalagi buat penggemar jahit-menjahit seperti aku ini. Ewwwww…. ngakunya sih gemar, tapi prakteknya ala kadar, hahaha…. Wis lah pokok’e kudu punya ini chart. Dan sependek yang aku tahu untuk pola Joan Elliot yang satu ini tidak ada kit aslinya, alias hanya dijual dalam bentuk pola saja. Agak ribet juga sih jadinya, karena kebanyakan produk kristik yang beredar di pasaran sini adalah yang berbentuk kit, yang memang lebih praktis dan banyak peminatnya. Jadiii… ketok-ketok pintu online shop aja deh, seperti biasa Rumah Kristik di FB yang jadi andalan. Alhamdulillah bisa dong, minta tolong dipesenin ke Sewandso sono.

Begitu pola datang dan dijembreng, wahai, gede juga polanya, hahaha… terbagi empat lembar pola seukuran halaman tabloid. Plus 2 lembar daftar kode benang  di kertas ukuran A4. Ukuran kertas yang gede jelas bikin ribet megangnya,  jadi aku membuat  working copy dengan ukuran yang lebih kecil. Biar pola aslinya awet juga sih, sekalian jadi harta karun. Oh ya, karena hanya berbentuk pola, jadi aku harus beli benang dan kain/aida sendiri. Lumayan juga sih 34 skein dan 1 benang kreinik yang diperlukan untuk mengerjakan pola ini. Untuk kain aku menggunakan 16ct, sedikit lebih rapat daripada 14ct, tapi masih lebih eyes friendly dibanding 18ct.  Maklum, mata sampun yuswo, alias udah umur, hehehe…

.

img_20170719_110510_6861677784642.jpg

 

Semangat lah ya, project baru je, hahaha…. *kode stitcher*. Aku mulai dari sisi kanan atas dulu, dengan pertimbangan kebiasaan aja sih. Dengan adanya gridding, mau mulai darimana aja silahkan saja ora masalah

 

img_20170824_210051_4381684813637.jpg

 

img_20170827_224342_8871256378303.jpg

 

img_20170901_213510_635204741135.jpg

 

Halaman kanan atas ini selesai dikerjakan dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan. Semagatlaaah, kan masih anget…. Aku sengaja menyelesaikan sampai ke backstitch-nya, dengan pertimbangan lebih baik dicicil perhalaman daripada nanti mabok backstitch di akhir. Jadi tidak usah nunggu xxx selesai semua baru di backstitch. Cukup xxx untuk satu halaman selesai, lalu kerjain backstitch untuk halaman tersebut.

Lanjut halaman kanan bawah :

 

img_20170907_224350_7012085672716.jpg

 

img_20170911_225534_423913751329.jpg

 

img_20170921_214836_2001667666696.jpg

 

img_20170920_233855_3261117952828.jpg

 

Seneng ngerjain halaman kanan bawah ini, karena ada gambar kotak penyimpanan lucu berhias gambar daun dan bunga. Semacam peti harta karun tempat para stitcher ngumpetin tumpukan dosa eh, tumpukan wip atau ufo mereka. Lalu ada keranjang jahit dan boneka teddy bear coklat diatas peti itu. Nah untuk keranjangnya bisa jadi contoh nyata betapa backstitch meskipun sering dianggap nganyelke bin nyebelin, ternyata bisa memberi perbedaan yang jelas banget pada hasil xxx kita.

 

.facebook_1514364827490.jpg2130627119.jpg

perhatikan area yang sudah dibackstitch dan yang belum, beda banget kan kesannya ?

 

Setalah selesai halaman kanan bawah, aku lanjut dengan bagian kiri bawah

img_20171009_231254_5371420171848.jpg

 

img_20171012_074427_6191598056094.jpg

 

img_20171023_230629_40717265444.jpg

 

img_20171027_210723_2781389845807.jpg

 

Walaupun agak lelet, alhamdulillah akhirnya tiga halaman selesai sudah. Pengen sih cepetan selesai, tapi apa daya, adaaaa aja alesan untuk ntar-sok-ntar-besok terus. Apalagi dua halaman bagian bawah relatif lebih banyak stitch/xxx-nya daripada dua halaman bagian atas. Yang otomatis juga lebih banyak backstitch yang harus dijahit agar detilnya tampak lebih nyata.

Tapi harus selesai lah ya, apalagi proyek The Sewing Room ini diniatkan untuk proyek tutup tahun 2017. Biar greget gitu lah, secara tahun ini sepertinya rada miskin finished project kristik, sedikit terganggu keasyikan menyulam untuk membuat bros, hehehe….

 

img_20171129_223003_593608785918.jpg

 

img_20171220_164551_773708002108.jpg

 

20171226_2214241460706007.jpg

 

20171226_221750308765093.jpg

 

Setelah halaman terakhir untuk project kali ini selesai dikerjakan, aku baru memasang benang emas yang sebenarnya ada di 3 halaman sebelumnya. Pertimbangannya sih aku khawatir benang warna emas ini bakalan jadi jelek kalau kupasang lebih dulu. Ya gitu deh, aku kan termasuk stitcher rusuh, hehehe…  enggak bisa rapi nyimpen kerjaannya. Aku juga sering nenteng kristik yang sedang kukerjakan kemana-mana. Kadang kalau lagi inget ya digulung rapi, kadang kalau kumat sembrono ya sampai kelipet-lipet di dalam tas… Bahkan pernah ada kristikku yang tercecer merana di jalanan, jatuh dari tas dan penyet kelindes ban mobil yang lewat… *traumaaaaa, hahahaha….* . Mana benang metalik/emas relatif lebih rewel dari benang sulam biasa. Jadilah, pasang terakhir aja deh… Dan hasilnya memang keren banget, mesin jahitnya jadi terlihat lebih cling, hehehe…. Untuk huruf di papan pada bagian tengah gambar, aku kerjakan dibagian akhir juga. Maksud hati biar sekalian nulisnya, semacam buat gong-nya gituuuh….

Daaaan, akhirnyaaa, proyek yang dimulai pada tanggal 19 Juli 2017 ini selesai pada tanggal 26 Desember 2017, Alhamdulillah….

 

 

20171226_220437_wm2061118926.jpg

 

He Did It

Sependek yang aku tahu, anak-anak autis tidak menyukai bahkan bisa sangat terganggu dengan suara-suara keras. Jangankan suara berdentum, dengung AC  yang agak keras saja sudah bisa membuat Fachri merasa tidak nyaman dan gelisah. Perlu waktu dan latihan berbulan-bulan agar Fachri tidak lari terbirit-birit saat ada blender atau mixer dinyalakan. Hand dryer di mall pun pernah menjadi monster menakutkan untuk Fachri, hanya karena suara dengungnya.

Jadi saat melihat Fachri tampil di konser kemarin… gimana ngomongnya ya, hahaha… jadi bingung dewe… it’s a kind of magical moment. Walaupun bukan konser gede-gedean ala festival rock level internasional *etdah*, konser kemarin menggunakan sound system yang lumayan jeger efek suaranya. Bikin penonton  tidak bisa ngobrol normal kalau mau didenger suaranya, harus teriak-teriak macam ngobrol sama bang Bolot yang lagi pake headset.

Takjub juga kalau ingat bagaimana Fachri bisa bertahan di venue saat menunggu gilirannya tampil. Sementara beberapa seniornya bergiliran tampil dengan gebugan drum yang serius sempet bikin emaknya jantungan, hahaha… and then, saat nama Fachri dipanggil untuk tampil, mencelos rasane ati… Ya Allah, bantu dan lindungi anakku…

Fachri naik panggung ditemani guru les-nya hanya sampai duduk di belakang drum set. Saat gurunya turun, reflek Fachri menutup kedua daun telinganya dengan tangan yang masih memegang stick drum. Kebiasaannya saat takut mendengar suara keras… Saat itu pengen rasanya lari ikutan naik panggung, n told him that everything is gonna be OK. Alhamdulillah enggak jadi sih, kasihan bocahnya lah ya, ketauan punya emak lebay gitu, hahaha….

Berkat latihan-latihan di tempat les, Alhamdulillah Fachri bisa mengatasi rasa takutnya dan menyelesaikan lagunya dengan baik. Lagu paling dasar untuk belajar drum. Dan emaknya terjebak dilema antara pengen mewek atau jingkrak-jingkrak bahagia macam rocker Euis Darliah nyanyi lagu Apanya Dong… kagak kenal Euis Darliah ? Gapapa sih, tapi mulai sekarang panggil eike pake sapaan “Bu” ya, wkwkwk…

Bagi beberapa orang, bocah tampil di event konser sekolah musik adalah hal yang biasa. Tapi buatku dan Fachri, ada cerita panjang, usaha keras dan berkah Allah yang sangat luar biasa disana.
Alhamdulillah….

 

 

#autism #autismboy #my_sonshine

Gantungan Kotak Mungil

Barengan beli kit biscornu kemarin, aku juga beli kit sejenis tapi bentuk akhirnya kotak. Sejenis karena sebenernya cara pembuatan tidak jauh beda, dan penggunaan hasil akhir yang sama-sama bisa dipakai untuk scissor fob, gantungan kunci, gantungan tas atau apalah itu yang sejenis… *kagak jelas gitu sih mbok*. Warna dan motifnya juga sama-sama lucu, imut bin kiyut gitu deeeeh… laaah, emang pada dasarnya penginan juga sih, hihihi… Nah ini dia isi kit-nya

 

wp-1509088792186..jpg

 

Sama seperti biscornu project kemarin, yang pertama harus dikerjakan tentu saja bagian menjahit kristiknya. Bedanya untuk cube accessories ini bidang yang harus dibuat ada 6 kotak yang sama ukurannya, sementara untuk biscornu hanya ada 2 kotak.

 

wp-1509088719800..jpg

 

Aku tidak membahas soal jahit kristiknya ya. Standarlah, bikin silang-silang begono doang per 1 kotak aida, ehem…. dan karena aida yang disediakan berukuran 14ct,  maka benang yang digunakan cukup 2 helai saja untuk xxx-nya dan 1 helai untuk backstitch-nya. Yang perlu diperhatikan adalah, aku menggunalan 2 helai benang untuk backstitch tepian gambar yang menggunakan benang warna orange. Pertimbanganku sih, karena backstitch disitu akan digunakan untuk menyatukan tiap lembaran hingga membentuk kotaknya, jadi harus lebih kuat daripada backstitch biasa.

Setelah selesai semua 6 kotak kristik terjahit, mari kita satukan menjadi bentuk kotak munyil….

 

20171027_141137.jpg

 

wp-1509088571597..jpg

 

wp-1509088251386..jpg

 

Sebagai langkah awal, sangkutkan benang di bagian belakang aida, lalu bawa ke depan dan satukan 2 lembar dengan mengunakan menyatukan backstitch di kedua kotak seperti terlihat pada gambar.

Hingga ke 6 lembar aida menyatu seperti ini.

wp-1509088112412..jpg

 

Sampai tahap ini sebenernya sederhana dan gampang-gampang aja sih  buatku. Dengan catatan perhatikan juga posisi bagian atas bawah gambar-nya, biar ga jumpalitan gak sama arahnya nanti. Yang mulai bikin ribet saat membentuk kotaknya… ampun bagindaaa, hahaha…

 

wp-1509088011523..jpg

 

Selain aida-nya lumayan keras ( mungkin sebaiknya dicuci dulu kali ya… ), ukurannya yang mungil juga menjadi tantangan tersendiri untuk mata sepuhku… *uhukssss*. Tapi sudah sampai sejauh ini mosok mau lempar handuk kibar bendera putih sih… sayang laaah… Mekso-mekso pokok’e harus jadi !

 

wp-1509087940831..jpg

 

Dan alhamdulillaaaaah…. akhirnya terbentuk juga si kotak mungil cube accesories-nya. Seperti biscornu kemarin, sisakan satu sisi terbuka untuk memasukkan dacron-nya.

 

wp-1509087896768..jpg

 

Lalu tutup dengan menggunakan jahitan yang sama. Jangan lupa memasang kait untuk menggantung si kotak mungil ini

wp-1509087819692..jpg

 

 

Alhamdulillah selesai sudah cube accessories project-nya….

 

C360_2017-10-26-20-45-40-063.jpg

 

 

 

.

Sulam Cast On Lagi

Beberapa hari terakhir ini suka rada pusing kalau ngerjain kristik, sepertinya harus ganti kacamata. Tapi sementara belum kelakon, daripada manyun hayuklah kembali ke proyek sulam. Buatku kalau nyulam rasanya mata gak se-spanneng kalo ngerjain kristik. Kalau menyulam kan gak ada hukum gak boleh salah hitung kotak, gak ada horor salah baca kode benang,  dan gak ada pola genit yang warnanya loncat sana loncat sini macam kutu pindahan rumah… *eeeeeh*. Laaah segitu tegangnya emang kalo ngerjain kristik ? Enggak juga sih, lagi lebay aja nih, qiqiqi….

Sebenernya ini proyek sulam yang sudah lumayan lama terbengkalai. Bahan untuk proyek sulam kali ini sudah ada di tangan dari bulan Juni. Dan tidak seperti kit biscornu yang langsung di eksekusi kemarin, sulaman baru dicolek lagi awal September. Nyolek dikit doang, lalu didiemin lagiiii… nah Oktober ini diniatin kudu selesai. Kenapa lama ? seperti biasa, alesan mah banyaaaak, hahaha…. Tapi sepertinya yang paling ngaruh adalah alesan males mikir.

Emang kudu dipikir ? lha iya dong, walaupun mikirnya gak seberat mikirin urusaan dunia dan seluruh isinya *eeeewwww*, tapi setidaknya harus mikir bentuk sulamannya seperti apa, plus pilihan warna benangnya juga. Kalau masalah bentuk sulaman sih bisa lah intip-intip cari ide di instagram atau pinterest. Tapi kalau warna benang kan tergantung selera, dan juga sangat-sangat tergantung pada stok benang yang ada. Maklum tukang sulam modal benang sisa, hehehe…

Jadi, proyek apa kita kali ini ? Nah ini dia bidang yang mau disulam…

 

20171018_171818.jpg

 

Jujur aku gak tau apa nama tenar dari obyek sulam kali ini, maafken, hehehe… aku taunya kalo di Jawa dipanggil genduk, eh cepuk… Fungsinya untuk nyimpen printilan kecil-kecil seperti peniti kecil atau untuk  mengamankan aksesoris kecil yang takut ilang keselip. Cepuk ini terdiri dari cepuk itself dan dome plastik tipis untuk menempel hiasan yang kita buat.

Seperti biasa, aku mulai dengan membuat garis batas untuk memperkirakan besarnya sulaman yang harus dibuat. Pakai pena frixion. Lanjut membuat gambaran kasar bentuk sulamannya. Sesuai dengan semangat manfaatkan apa yang ada, kain blacu yang kupakai juga kain yang sudah gak utuh lagi, sudah sukses tercabik-cabik untuk proyek ini dan itu. Gak papa to ya, yang penting masih muat, dan yang penting bukan hatimu yang tercabik-cabik derita… *apaseeeeh*.

 

20171018_194137.jpg

 

Demi alesan males mikir komposisi benang, akhirnya aku ngikut aja komposisi warna benang dari proyek cameo yang pernah aku buat dulu. Mau lihat ? *pake nanyak lagi*. Yuk mulai dari bunga pertama, lalu lanjut sampai Bunga Terakhir dari Bebi Romeo…. *ejiye penggemar lagu jadul*

 

20171018_175650.jpg

 

20171018_181815.jpg

 

20171018_184005.jpg

 

20171018_190355.jpg

 

 

Setelah urusan sulam selesai, pasang deh di dome plastiknya. Pada gambar dibawah bisa dilihat disebelahnya ada cameo dengan sulaman yang diikutin warnanya. Kalau yang di cameo aku pakai sulaman bullion knot, untuk cepuk aku pakai sulam cast on. Sama-sama jenis sulaman timbul dengan ukuran akhir yang berbeda.

 

C360_2017-10-18-19-45-18-289_wm.jpg

 

Rasanya masih kurang puas juga sih untuk kerapiannya, rada ribet nempelin sulamannya ke dome, dome-nya tifiis…. Serba salah, mau dikencengin jadinya ntu dome makin mengkeret, gak dikencengin perasaan tepinya masih pating pecotot... *oh my, pating pecotot ki opo basa indonesia-nya*. Aiiissshhh… masih harus belajar terus nih.

Setelah uplek nempelin sulaman ke dome. Alhamdulillah lanjut nempelin dome-nya ke cepuk. Aku pakai lem uhu biasa sih, semoga awet nempel, kuat dan tabah menghadapi cobaan… *apalagiiiiiiiih*.

 

wp-1508338019191..jpg

 

 

untuk sulam cast on bisa diintip tutorial abal-abalnya disini : https://pingkanrizkiarto.wordpress.com/2010/04/06/belajar-menyulam-yuk-mawar-cast-on/

 

 

last not least, happy crafting yak…. 🙂

 

 

 

 

.