Tentang Kebun

Gak tau mimpi apa, pekan kemarin kebun di rumah dapet kehormatan diliput JawaPos TV. Masup tipi ciiing, hahaha… norak yew. Ya mayan surprise juga lah, secara kebon cuma sak uprit gitu, gak kelasnya kebun keren berhektar-hektar penuh bunga aneka warna, ehem…. Tapi mungkin memang yang ingin diliput adalah jenis kebun rumahan dengan nara sumber emak-emak yang memang hobinya berkebun. Sooo… jadilah kebun Ciketing yang ketiban sampur masuk liputan.

Kalau ngomong soal luas, dengan ukuran kira-kira 6,5 x 5 meter kebunku memang bukan termasuk kebun yang luas. Tapi untuk skala perumahan menengah di Bekasi sudah cukup lumayanlah, lumayan lega untuk nanem beberapa macam tumbuhan dan njejerin beberapa pot. Walapun kalau nurutin penginan sih maunya akuisisi kebon tetangga sebelah juga, wkwkwk…. Ya begitulan impen-impen emak-emak  maruk berkebun, banyak mau tapi belum tentu mampu, qiqiqi….

Dari awal membuat kebun, memang sudah diniatkan untuk membuat kebun bunga. Sejalanlah lah ya dengan kesenenganku pada tanaman berbunga. Tapi seperti yang sudah banyak diketahui, umumnya tanaman berbunga cantik hanya bisa tampil maksimal di dataran tingi yang berhawa syeeejuuuuk. Sementara itu posisi Bekasi yang berada di 19m dpl  menghadirkan limpahan hawa fanaasssh nyaris di setiap waktu. Jadi, kudu pinter-pinter pilih tanaman berbunga yang bisa tumbuh baik pada kondisi hawa panas Bekasi tercinta ini.

Sampai saat ini aku cukup puas dengan pilihan Kembang Sepatu, Soka, Vinca dan Mossrose yang lumayan mendominasi kebunku. Jenis-jenis tanaman berbunga diatas lumayan rajin berbunga, dan yang penting tidak menuntut high maintenance life stye, hihihi…. ya maklumlah, tukang kebon angin-anginan, kadang rajin, seringnya males. Untuk tambahannya ada tecoma stans, bauhinia cockiana, bougenville, lollypop plant dan beberapa pohon mawar yang sudah terseleksi bisa tetap berbunga di hawa panas. Oh ya, saat ini aku juga sedang belajar sabar memelihara anggrek, tanaman berbunga cantik yang lumayan perlu ilmu untuk pemeliharaannya.

Untuk centil-centilannya, uhuksss… aku memilih tema shabby chic garden. Rasanya pas aja dengan cita-cita kebun bungaku, karena sependek yang aku tahu, shabby chic garden bisa di-identik-kan dengan tebaran bunga dimana-mana. Tinggal menambahkan beberapa elemen taman dengan warna-warna lembut dan/atau sentuhan shabby alias mbladus. Lah, jadi kebanyakan ngomong nih, bosen lah ya, qiqiqi…. yuk lah tengok kebonnya aja….

 

20180118_1055371325571313.jpg

 

20180118_2056011844202715.jpg

 

20180126_145400840245029.jpg

 

Point of interest memang di bangku taman dengan atap lengkung itu, yang dicita-citakan untuk rambatan tanaman berbunga. Bakalan cantik banget kan, kalau lengkungan itu dipenuhi bunga cerah ceria…. Untuk saat ini aku menanam Morning Glory warna biru di posisi itu. Tapi memang butuh waktu untuk mewujudkan impian lengkung penuh bunga, tanaman gak bisa diburu-buru dan berkebun memang butuh kesabaran.

Selanjutnya, beberapa foto detail kebun yang aku tambahkan secara bertahap sesuai kemampuan dompet, hehehe….

 

20180118_073342822331564.jpg

 

20180101_085705177083567.jpg

 

wp-1516953480621..jpg

 

20180122_071929429647675.jpg

 

img_20171219_075840_513582306796.jpg

 

20180127_07485938544689.jpg

 

 

20180127_081802-12120307972.jpg

 

img_20171210_082129_858788373237.jpg

 

img_20171028_101903_266540189590.jpg

 

img_20170924_093828_7061320736397.jpg

 

20180118_1329451335425113.jpg

 

img_20170806_104415_495336083715.jpg

 

img_20170222_204710_7471392147762.jpg

 

screenshot_20180127-084059291444428.jpg

 

img_20180106_171804_9631698000535.jpg

 

img_20180114_162509_721985455552.jpg

 

20180127_0832501208834956.jpg

 

20180127_073513376879871.jpg

 

Walaupun kecil alhamdulillah bisa menyejukkan mata dan hati, cukup nyaman untuk tempat menikmati teh di sore hari…

so ? berkebun yuk…. 🙂

 

 

c360_2018-01-18-09-20-52-731834857601.jpg

 

 

 

 

 

.

Iklan

The Sewing Room, Joan Elliot

Langsung naksir begitu lihat chart ini, warnanya itu lhooo, Joan Elliot banget… gambarnya juga cantik, apalagi buat penggemar jahit-menjahit seperti aku ini. Ewwwww…. ngakunya sih gemar, tapi prakteknya ala kadar, hahaha…. Wis lah pokok’e kudu punya ini chart. Dan sependek yang aku tahu untuk pola Joan Elliot yang satu ini tidak ada kit aslinya, alias hanya dijual dalam bentuk pola saja. Agak ribet juga sih jadinya, karena kebanyakan produk kristik yang beredar di pasaran sini adalah yang berbentuk kit, yang memang lebih praktis dan banyak peminatnya. Jadiii… ketok-ketok pintu online shop aja deh, seperti biasa Rumah Kristik di FB yang jadi andalan. Alhamdulillah bisa dong, minta tolong dipesenin ke Sewandso sono.

Begitu pola datang dan dijembreng, wahai, gede juga polanya, hahaha… terbagi empat lembar pola seukuran halaman tabloid. Plus 2 lembar daftar kode benang  di kertas ukuran A4. Ukuran kertas yang gede jelas bikin ribet megangnya,  jadi aku membuat  working copy dengan ukuran yang lebih kecil. Biar pola aslinya awet juga sih, sekalian jadi harta karun. Oh ya, karena hanya berbentuk pola, jadi aku harus beli benang dan kain/aida sendiri. Lumayan juga sih 34 skein dan 1 benang kreinik yang diperlukan untuk mengerjakan pola ini. Untuk kain aku menggunakan 16ct, sedikit lebih rapat daripada 14ct, tapi masih lebih eyes friendly dibanding 18ct.  Maklum, mata sampun yuswo, alias udah umur, hehehe…

.

img_20170719_110510_6861677784642.jpg

 

Semangat lah ya, project baru je, hahaha…. *kode stitcher*. Aku mulai dari sisi kanan atas dulu, dengan pertimbangan kebiasaan aja sih. Dengan adanya gridding, mau mulai darimana aja silahkan saja ora masalah

 

img_20170824_210051_4381684813637.jpg

 

img_20170827_224342_8871256378303.jpg

 

img_20170901_213510_635204741135.jpg

 

Halaman kanan atas ini selesai dikerjakan dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan. Semagatlaaah, kan masih anget…. Aku sengaja menyelesaikan sampai ke backstitch-nya, dengan pertimbangan lebih baik dicicil perhalaman daripada nanti mabok backstitch di akhir. Jadi tidak usah nunggu xxx selesai semua baru di backstitch. Cukup xxx untuk satu halaman selesai, lalu kerjain backstitch untuk halaman tersebut.

Lanjut halaman kanan bawah :

 

img_20170907_224350_7012085672716.jpg

 

img_20170911_225534_423913751329.jpg

 

img_20170921_214836_2001667666696.jpg

 

img_20170920_233855_3261117952828.jpg

 

Seneng ngerjain halaman kanan bawah ini, karena ada gambar kotak penyimpanan lucu berhias gambar daun dan bunga. Semacam peti harta karun tempat para stitcher ngumpetin tumpukan dosa eh, tumpukan wip atau ufo mereka. Lalu ada keranjang jahit dan boneka teddy bear coklat diatas peti itu. Nah untuk keranjangnya bisa jadi contoh nyata betapa backstitch meskipun sering dianggap nganyelke bin nyebelin, ternyata bisa memberi perbedaan yang jelas banget pada hasil xxx kita.

 

.facebook_1514364827490.jpg2130627119.jpg

perhatikan area yang sudah dibackstitch dan yang belum, beda banget kan kesannya ?

 

Setalah selesai halaman kanan bawah, aku lanjut dengan bagian kiri bawah

img_20171009_231254_5371420171848.jpg

 

img_20171012_074427_6191598056094.jpg

 

img_20171023_230629_40717265444.jpg

 

img_20171027_210723_2781389845807.jpg

 

Walaupun agak lelet, alhamdulillah akhirnya tiga halaman selesai sudah. Pengen sih cepetan selesai, tapi apa daya, adaaaa aja alesan untuk ntar-sok-ntar-besok terus. Apalagi dua halaman bagian bawah relatif lebih banyak stitch/xxx-nya daripada dua halaman bagian atas. Yang otomatis juga lebih banyak backstitch yang harus dijahit agar detilnya tampak lebih nyata.

Tapi harus selesai lah ya, apalagi proyek The Sewing Room ini diniatkan untuk proyek tutup tahun 2017. Biar greget gitu lah, secara tahun ini sepertinya rada miskin finished project kristik, sedikit terganggu keasyikan menyulam untuk membuat bros, hehehe….

 

img_20171129_223003_593608785918.jpg

 

img_20171220_164551_773708002108.jpg

 

20171226_2214241460706007.jpg

 

20171226_221750308765093.jpg

 

Setelah halaman terakhir untuk project kali ini selesai dikerjakan, aku baru memasang benang emas yang sebenarnya ada di 3 halaman sebelumnya. Pertimbangannya sih aku khawatir benang warna emas ini bakalan jadi jelek kalau kupasang lebih dulu. Ya gitu deh, aku kan termasuk stitcher rusuh, hehehe…  enggak bisa rapi nyimpen kerjaannya. Aku juga sering nenteng kristik yang sedang kukerjakan kemana-mana. Kadang kalau lagi inget ya digulung rapi, kadang kalau kumat sembrono ya sampai kelipet-lipet di dalam tas… Bahkan pernah ada kristikku yang tercecer merana di jalanan, jatuh dari tas dan penyet kelindes ban mobil yang lewat… *traumaaaaa, hahahaha….* . Mana benang metalik/emas relatif lebih rewel dari benang sulam biasa. Jadilah, pasang terakhir aja deh… Dan hasilnya memang keren banget, mesin jahitnya jadi terlihat lebih cling, hehehe…. Untuk huruf di papan pada bagian tengah gambar, aku kerjakan dibagian akhir juga. Maksud hati biar sekalian nulisnya, semacam buat gong-nya gituuuh….

Daaaan, akhirnyaaa, proyek yang dimulai pada tanggal 19 Juli 2017 ini selesai pada tanggal 26 Desember 2017, Alhamdulillah….

 

 

20171226_220437_wm2061118926.jpg

 

He Did It

Sependek yang aku tahu, anak-anak autis tidak menyukai bahkan bisa sangat terganggu dengan suara-suara keras. Jangankan suara berdentum, dengung AC  yang agak keras saja sudah bisa membuat Fachri merasa tidak nyaman dan gelisah. Perlu waktu dan latihan berbulan-bulan agar Fachri tidak lari terbirit-birit saat ada blender atau mixer dinyalakan. Hand dryer di mall pun pernah menjadi monster menakutkan untuk Fachri, hanya karena suara dengungnya.

Jadi saat melihat Fachri tampil di konser kemarin… gimana ngomongnya ya, hahaha… jadi bingung dewe… it’s a kind of magical moment. Walaupun bukan konser gede-gedean ala festival rock level internasional *etdah*, konser kemarin menggunakan sound system yang lumayan jeger efek suaranya. Bikin penonton  tidak bisa ngobrol normal kalau mau didenger suaranya, harus teriak-teriak macam ngobrol sama bang Bolot yang lagi pake headset.

Takjub juga kalau ingat bagaimana Fachri bisa bertahan di venue saat menunggu gilirannya tampil. Sementara beberapa seniornya bergiliran tampil dengan gebugan drum yang serius sempet bikin emaknya jantungan, hahaha… and then, saat nama Fachri dipanggil untuk tampil, mencelos rasane ati… Ya Allah, bantu dan lindungi anakku…

Fachri naik panggung ditemani guru les-nya hanya sampai duduk di belakang drum set. Saat gurunya turun, reflek Fachri menutup kedua daun telinganya dengan tangan yang masih memegang stick drum. Kebiasaannya saat takut mendengar suara keras… Saat itu pengen rasanya lari ikutan naik panggung, n told him that everything is gonna be OK. Alhamdulillah enggak jadi sih, kasihan bocahnya lah ya, ketauan punya emak lebay gitu, hahaha….

Berkat latihan-latihan di tempat les, Alhamdulillah Fachri bisa mengatasi rasa takutnya dan menyelesaikan lagunya dengan baik. Lagu paling dasar untuk belajar drum. Dan emaknya terjebak dilema antara pengen mewek atau jingkrak-jingkrak bahagia macam rocker Euis Darliah nyanyi lagu Apanya Dong… kagak kenal Euis Darliah ? Gapapa sih, tapi mulai sekarang panggil eike pake sapaan “Bu” ya, wkwkwk…

Bagi beberapa orang, bocah tampil di event konser sekolah musik adalah hal yang biasa. Tapi buatku dan Fachri, ada cerita panjang, usaha keras dan berkah Allah yang sangat luar biasa disana.
Alhamdulillah….

 

 

#autism #autismboy #my_sonshine

Gantungan Kotak Mungil

Barengan beli kit biscornu kemarin, aku juga beli kit sejenis tapi bentuk akhirnya kotak. Sejenis karena sebenernya cara pembuatan tidak jauh beda, dan penggunaan hasil akhir yang sama-sama bisa dipakai untuk scissor fob, gantungan kunci, gantungan tas atau apalah itu yang sejenis… *kagak jelas gitu sih mbok*. Warna dan motifnya juga sama-sama lucu, imut bin kiyut gitu deeeeh… laaah, emang pada dasarnya penginan juga sih, hihihi… Nah ini dia isi kit-nya

 

wp-1509088792186..jpg

 

Sama seperti biscornu project kemarin, yang pertama harus dikerjakan tentu saja bagian menjahit kristiknya. Bedanya untuk cube accessories ini bidang yang harus dibuat ada 6 kotak yang sama ukurannya, sementara untuk biscornu hanya ada 2 kotak.

 

wp-1509088719800..jpg

 

Aku tidak membahas soal jahit kristiknya ya. Standarlah, bikin silang-silang begono doang per 1 kotak aida, ehem…. dan karena aida yang disediakan berukuran 14ct,  maka benang yang digunakan cukup 2 helai saja untuk xxx-nya dan 1 helai untuk backstitch-nya. Yang perlu diperhatikan adalah, aku menggunalan 2 helai benang untuk backstitch tepian gambar yang menggunakan benang warna orange. Pertimbanganku sih, karena backstitch disitu akan digunakan untuk menyatukan tiap lembaran hingga membentuk kotaknya, jadi harus lebih kuat daripada backstitch biasa.

Setelah selesai semua 6 kotak kristik terjahit, mari kita satukan menjadi bentuk kotak munyil….

 

20171027_141137.jpg

 

wp-1509088571597..jpg

 

wp-1509088251386..jpg

 

Sebagai langkah awal, sangkutkan benang di bagian belakang aida, lalu bawa ke depan dan satukan 2 lembar dengan mengunakan menyatukan backstitch di kedua kotak seperti terlihat pada gambar.

Hingga ke 6 lembar aida menyatu seperti ini.

wp-1509088112412..jpg

 

Sampai tahap ini sebenernya sederhana dan gampang-gampang aja sih  buatku. Dengan catatan perhatikan juga posisi bagian atas bawah gambar-nya, biar ga jumpalitan gak sama arahnya nanti. Yang mulai bikin ribet saat membentuk kotaknya… ampun bagindaaa, hahaha…

 

wp-1509088011523..jpg

 

Selain aida-nya lumayan keras ( mungkin sebaiknya dicuci dulu kali ya… ), ukurannya yang mungil juga menjadi tantangan tersendiri untuk mata sepuhku… *uhukssss*. Tapi sudah sampai sejauh ini mosok mau lempar handuk kibar bendera putih sih… sayang laaah… Mekso-mekso pokok’e harus jadi !

 

wp-1509087940831..jpg

 

Dan alhamdulillaaaaah…. akhirnya terbentuk juga si kotak mungil cube accesories-nya. Seperti biscornu kemarin, sisakan satu sisi terbuka untuk memasukkan dacron-nya.

 

wp-1509087896768..jpg

 

Lalu tutup dengan menggunakan jahitan yang sama. Jangan lupa memasang kait untuk menggantung si kotak mungil ini

wp-1509087819692..jpg

 

 

Alhamdulillah selesai sudah cube accessories project-nya….

 

C360_2017-10-26-20-45-40-063.jpg

 

 

 

.

Sulam Cast On Lagi

Beberapa hari terakhir ini suka rada pusing kalau ngerjain kristik, sepertinya harus ganti kacamata. Tapi sementara belum kelakon, daripada manyun hayuklah kembali ke proyek sulam. Buatku kalau nyulam rasanya mata gak se-spanneng kalo ngerjain kristik. Kalau menyulam kan gak ada hukum gak boleh salah hitung kotak, gak ada horor salah baca kode benang,  dan gak ada pola genit yang warnanya loncat sana loncat sini macam kutu pindahan rumah… *eeeeeh*. Laaah segitu tegangnya emang kalo ngerjain kristik ? Enggak juga sih, lagi lebay aja nih, qiqiqi….

Sebenernya ini proyek sulam yang sudah lumayan lama terbengkalai. Bahan untuk proyek sulam kali ini sudah ada di tangan dari bulan Juni. Dan tidak seperti kit biscornu yang langsung di eksekusi kemarin, sulaman baru dicolek lagi awal September. Nyolek dikit doang, lalu didiemin lagiiii… nah Oktober ini diniatin kudu selesai. Kenapa lama ? seperti biasa, alesan mah banyaaaak, hahaha…. Tapi sepertinya yang paling ngaruh adalah alesan males mikir.

Emang kudu dipikir ? lha iya dong, walaupun mikirnya gak seberat mikirin urusaan dunia dan seluruh isinya *eeeewwww*, tapi setidaknya harus mikir bentuk sulamannya seperti apa, plus pilihan warna benangnya juga. Kalau masalah bentuk sulaman sih bisa lah intip-intip cari ide di instagram atau pinterest. Tapi kalau warna benang kan tergantung selera, dan juga sangat-sangat tergantung pada stok benang yang ada. Maklum tukang sulam modal benang sisa, hehehe…

Jadi, proyek apa kita kali ini ? Nah ini dia bidang yang mau disulam…

 

20171018_171818.jpg

 

Jujur aku gak tau apa nama tenar dari obyek sulam kali ini, maafken, hehehe… aku taunya kalo di Jawa dipanggil genduk, eh cepuk… Fungsinya untuk nyimpen printilan kecil-kecil seperti peniti kecil atau untuk  mengamankan aksesoris kecil yang takut ilang keselip. Cepuk ini terdiri dari cepuk itself dan dome plastik tipis untuk menempel hiasan yang kita buat.

Seperti biasa, aku mulai dengan membuat garis batas untuk memperkirakan besarnya sulaman yang harus dibuat. Pakai pena frixion. Lanjut membuat gambaran kasar bentuk sulamannya. Sesuai dengan semangat manfaatkan apa yang ada, kain blacu yang kupakai juga kain yang sudah gak utuh lagi, sudah sukses tercabik-cabik untuk proyek ini dan itu. Gak papa to ya, yang penting masih muat, dan yang penting bukan hatimu yang tercabik-cabik derita… *apaseeeeh*.

 

20171018_194137.jpg

 

Demi alesan males mikir komposisi benang, akhirnya aku ngikut aja komposisi warna benang dari proyek cameo yang pernah aku buat dulu. Mau lihat ? *pake nanyak lagi*. Yuk mulai dari bunga pertama, lalu lanjut sampai Bunga Terakhir dari Bebi Romeo…. *ejiye penggemar lagu jadul*

 

20171018_175650.jpg

 

20171018_181815.jpg

 

20171018_184005.jpg

 

20171018_190355.jpg

 

 

Setelah urusan sulam selesai, pasang deh di dome plastiknya. Pada gambar dibawah bisa dilihat disebelahnya ada cameo dengan sulaman yang diikutin warnanya. Kalau yang di cameo aku pakai sulaman bullion knot, untuk cepuk aku pakai sulam cast on. Sama-sama jenis sulaman timbul dengan ukuran akhir yang berbeda.

 

C360_2017-10-18-19-45-18-289_wm.jpg

 

Rasanya masih kurang puas juga sih untuk kerapiannya, rada ribet nempelin sulamannya ke dome, dome-nya tifiis…. Serba salah, mau dikencengin jadinya ntu dome makin mengkeret, gak dikencengin perasaan tepinya masih pating pecotot... *oh my, pating pecotot ki opo basa indonesia-nya*. Aiiissshhh… masih harus belajar terus nih.

Setelah uplek nempelin sulaman ke dome. Alhamdulillah lanjut nempelin dome-nya ke cepuk. Aku pakai lem uhu biasa sih, semoga awet nempel, kuat dan tabah menghadapi cobaan… *apalagiiiiiiiih*.

 

wp-1508338019191..jpg

 

 

untuk sulam cast on bisa diintip tutorial abal-abalnya disini : https://pingkanrizkiarto.wordpress.com/2010/04/06/belajar-menyulam-yuk-mawar-cast-on/

 

 

last not least, happy crafting yak…. 🙂

 

 

 

 

.

Biscornu Project

Pengen jahit biscornu nih, tapi Biscornu ki opo to jane ? 

biscornu is a small, 8-sided, stuffed ornamental pincushion. It usually made out of Aida cloth or linen.[1] Embroidery,hardanger, and/or cross-stitch are used to decorate the top and bottom of the cushion. A button is typically secured in the center of the cushion to give a small depression on the top. Beadstassels and other objects can decorate the biscornu.[1] They are typically able to fit in the palm of your hand. The name is derived from the French adjective, biscornu, meaning skewed, quirky or irregular.

Nah itu kata mas Wikipedia. Tapi untuk saat ini, biscornu sudah  mengalami penambahan fungsi, tidak hanya sebagai bantalan jarum, tapi bisa juga untuk scissor fob, gantungan kunci atau aksesoris lainnya. Dan seperti biasa, disclaimer  dulu ye, aku cerita disini berdasar pengalamanku saja, kalau ada info tambahan atau ada yang perlu dikoreksi, feel free untuk menulis di kolom komentar, monggo…

Balik ke soal jahit biscornu, dulu banget sempet kepikir pengen bikin, tapi biasalah, namanya pengen kalo gak diniatin madep manteb jadinya ya cuma berhenti di pengen doang, hehehe… Alasan sih banyak, musti cari bahan, musti cari pola, musti cari tutorial, musti tangtingtungtengtong dah tuh….

Tapiii… begitu dapet kiriman gambar kit biscornu dari temen, meledug *kompor keles* lagi deh niatnya, jadi sumingat…. Sudah bentuk kit gitu lho, sudah kumplit lah isinya, gak usah cari ini-itunya dulu, tinggal dicoba aja. Gak pake lama langsung hayuk aja nih…

 

20171014_124554.jpg

 

Namanya juga lagi semangat, begitu kit sampai ditangan, lansung buka aja deh…

 

20171014_125900-1.jpg

 

sudah kumplit, kain, benang, jarum, dacron untuk isian dan printilan  lainnya. Tutorial ? ada lah, tapi pakai tulisan pager bambu, hahaha… berhubung ga bisa bacanya, aku mengandalkan baca gambar yang alhamdulillah lumayan jelas terpampang di cover kit-nya.

 

20171014_184944.jpg

oh ya, di thread organizer-nya cuma ada urutan angka, tapi bukan masalah sih, tinggal disalin aja kok kode benangnya dari lembar petunjuknya.

 

 

20171014_185007-1.jpg

Langkah pertama tentu saja kerjain kristiknya dulu lah ya… ada 2 pola berbeda untuk bagian depan dan belakang. Dua-duanya sama lucunya, cakep imut…. *namanya juga lagi semangat apa aja dikata cakep*. Seperti biasa, aku tetep pakai gridding alias garis bantu untuk memudahkan mengerjakan kristiknya.

 

 

20171014_135615.jpg

 

20171015_183843.jpg

 

20171015_094414.jpg

Kali ini aku menggunakan cara per-warna benang. Kerjakan satu warna benang sampai selesai, baru pindah ke warna benang yang lain. Lebih efisien sih kalau menurut aku, apalagi ini kit kecil dengan pemakaian benang gak banyak.

 

 

20171015_094519_wm.jpg

Di pola sebenernya sudah ada garis merah jambu yang mengelilingi gambar. Awalnya aku gak terlalu perhatian. Kupikir itu hanya penanda untuk menunjukkan batas tepi kain yang harus digunting. Tapi ternyata itu tanda untuk backstitch yang harus dijahit mengelilingi gambar. Intip di lembar petunjuk, eh iya beneran kudu dijahit, hehehe…

 

20171015_105037.jpg

 

Dan backstitch ini ternyata ada fungsi tersendirinya nanti, saat harus menyatukan bagian depan dan bagian belakang biscornu-nya. Tidak seperti backstitch dalam gambar/kristik yang dibuat dengan 1 helai benang aja, aku membuat backstitch di pinggir gambar ini dengan 2 helai benang.

 

20171015_105828.jpg

 

Setelah selesai semua dijahit, aku memotong aida-nya dengan jarak 5 kotak dari backstitch yang mengelilingi gambar.

Pada intinya untuk membuat bentuk 8 sisi biscornu, kedua lembar aida harus dijahit menceng… *etdah mulai deh bahasa aslinya nongol*. Ujung lembar pertama harus disatukan dengan bagian tengah sisi lembar kedua. Mumet ? jangan dong…  kalimat keterangannya aja yang panjang menyebalkan, eksyennya sih simpel aja kok, hehehe….

Sebagai gambaran, aku tandai di polanya aja ya, seperti gambar di bawah ini. Jadi nantinya 4 ujung lembar pertama yang bertanda merah, harus bertemu dengan 4 sisi tengah bertanda hijau dari lembar kedua.

Untuk memudahkan, ada baiknya bagian tengah masing-masing sisi diberi tanda.

 

20171017_082136.jpg

20171017_082230.jpg

 

 

20171015_183302.jpg

Langkah pertama pasang jarum dengan 2 helai benang dari bagian belakang lembar pertama. ihiir itu jempol, qiqiqi…

 

20171015_183249.jpg

bawa jarum  ke depan, dan mari kita satukan lembar pertama dan lembar kedua

 

20171015_183225.jpg

satukan ujung lembar pertama dengan sisi tengah lembar kedua.

 

20171015_183153.jpg

jahit dengan menyatukan backstitch pada lembar pertama dan lembar kedua

 

20171015_183140.jpg

jahit memutar sehingga kedua lembar menyatu. sisakan satu sisi untuk memasang kait dan memasukkan dacron

 

20171015_183123.jpg

kait aku buat sendiri dari benang di kit

 

20171015_183104.jpg

pasang kait di salah satu ujung

 

20171015_183014.jpg

dacron sudah tersedia di kit, jadi jangan memutilasi bantal di rumah ya… #eeeh

 

ini penampakan setelah kedua sisi disambungkan

 

20171015_182816.jpg

lanjut pasang kancing di tengahnya, tembus sampai 2 sisi ya… seperti kata mas Wiki tadi, to give a small depression on the top

 

Kancing dari kit hanya aku pakai pada satu sisi biscornu saja, karena menurutku rada kebesaran untuk sisi biscornu yang gambarnya lebih padat. Aku ganti dengan bead emas ala-ala yang ada kutemukan di kotak printilan jahitku.

 

20171015_124921.jpg

 

20171015_125444_wm.jpg

 

Alhamdulillah bisa juga bikin biscornu.… *kibas kudungan*

 

 

 

 

 

 

 

 

.

Cupcake Bersama Bocah

Entah kesambit ide dari mana, ibu-ibu kelas 3 SD Melati Indonesia menjatuhkan tugas ngajarin anak-anak membuat cupcake padaku, emak dengan tampilan Rambo berhati Rinto ini, qiqiqi… Mungkin karena sering melihat aku pamer hasil  sulam dan kristik di wall fb-ku ( udah jamaklah ya, emak-emak jaman now selain di dunia nyata, sambung menyambung juga di dunia sosmed ), jadi langsung ambil kesimpulan bahwa urusan hias menghias bisalah di-gabrug-kan ke mama Fachri alias diriku ini.

Yaaah, sebenernya pernah juga sih dulu bikin cupcake dengan hiasan fondant, pas dulu Faiz ultah, pernah aku post juga di blog-ku ini. Tapi itu udah lama bangeeeet… printilan alat-alat-nya pun udah lama banget tersimpan di lemari. Entah masih lengkap atau udah ada yang tercecer mbuh nang ndi… Jadi deh bongkar-bongkar peralatan masak-ku. Alhamdulillah masih ada, dan alhamdulillah masih bisa nambah cetakan fondant-nya dengan cara call a friend alias minjem ke temen, hehehe….

Daaan, sebagai langkah pertama tentu saja bikin cupcake-nya lah ya. Tadinya pengen beli jadi aja, males gitu, hehehe… Tapi karena show-nya *uhuk deh ah* hari Senin jadi bisalah Ahad sore bikin kue-nya. Khawatir juga nanti diameter cupcake-nya gak cocok dengan cetakan fondant punyaku. So, hayuklah bikin kue….

 

20170928_080904

 

Alhamdulillah setelah 3 kali bikin adonan, jadi juga 40-an cupcake yang layak tayang. Layak tayang ? iyaaaa, ada beberapa cupcake yang sukses menghitam alias gosong pinggirnya. Nasib tukang kue modal oven tangkring nih, hihihi… jadi terbit lagi deh keinginan untuk punya oven gas cantik yang mihil itu… Tapi itu ntar aja dah ah, secara mood untuk baking suka angin-anginan juga, eman-eman duite

Daaan, Senin pagi inilah rombongan kue layak tayang yang kubawa ke sekolah Fachri, Melati Indonesia Bekasi.

 

20170928_073842

 

dan ini adalah contoh yang kubawa untuk pengenalan pertama ke anak-anak. Sengaja bikin yang simpel aja, gampang untuk anak-anak dan gampang untuk aku juga, hahaha….

20170928_073905

 

Rada deg-degan juga sih, secara belom ada pengalaman ngajarin anak-anak di depan kelas. Tapi cuek sajalah, sok cool gitu… Bismillah.

20170928_073750

 

Untuk sesi pertama aku ajak anak-anak menghias kue dengan fondant. Menghias cupcake dengan fondant bisa menjadi pengalaman yang seru untuk anak-anak, karena fondant bentuknya mirip lilin permainan atau playdough, yang bisa dibentuk macam-macam sesuai keinginan. Selain warnanya menarik, fondant juga bisa dimakan dan rasanya manis.

Alhamdulillah anak-anak antusias sekali, seru mencoba beberapa cetakan fondant yang kubawa. Ada juga yang berkreasi sendiri, membuat hiasan tanpa menggunakan cetakan.

IMG-20170911-WA0132

 

IMG-20170911-WA0129

 

 

 

 

 

Seperti yang sudah kuperkirakan, waktu ternyata masih tersisa cukup banyak. Jadi aku  lanjut dengan menghias kue menggunakan butter cream. Tidak seperti fondant yang bisa dibentuk dengan menggunakan tangan atau cetakan sederhana. Butter cream harus dibentuk menggunkan spuit. Agak ribet juga sih kalau untuk anak-anak, tapi cari yang gampang aja deh, yang penting hepi aja sih kalo anak-anak. Bikin bentuk ulir sederhana dengan spuit bunga, lalu tabur gula confetti diatasnya.

20170928_071543

 

 

 

20170911_111935

 

 

Alhamdulillah, walaupun gurunya level abal-abal, anak-anak senang dan antusias mencoba pengalaman baru menghias cupcake dengan fondant dan butter cream. Untuk yang dihias fondant, hasilnya bisa dibawa pulang dengan kotak cupcake yang dibagi untuk masing-masing anak. Sedangkan yang berhias butter cream bisa langsung dimakan di kelas. Agak riskan juga sih kalau dibawa pulang, iso mlenyok, hahaha…. *what is mleyok in bahasa indonesia ?*

Dan selain anak-anak, ternyata ada yang kepengen ikut nyobain juga, hahaha…

 

20170928_071625

 

20170911_112910

 

20170911_112456

 

 

 

Alhamdulillah, pengalaman yang sangat menyenangkan….. 🙂 🙂 🙂

 

20170911_110001

 

 

.