Mengurus Perpanjangan Ijin Makam

Hari ini mencoba mengurus sendiri perpanjangan ijin makam ibu mertua di TPU Penggilingan, Jakarta Timur. Pengalaman 3 tahun sebelumnya minta tolong ke petugas yang jaga di TPU malah berujung dongkol bin sebel. Ya gitu deh, manja-manja ga mau urus sendiri jadinya malah ndongkol neng mburi. Duit udah dikasih diawal, dengan tambahan ongkos yang plus-plus, eeeeh kagak jadi-jadi juga tu surat perpanjangan ijin penggunaan tanah makam. Sampai bolak-balik ditagih jawabannya ntar-sok-ntar-sok-mulu. Akhirnya tahun ini niat ingsun mencoba urus sendiri. Harus bisa !

Cari-cari info di inet, akhirnya dapet deh bayangan apa aja yang harus dilakukan. Yang pertama kali adalah datang ke TPU Penggilingan untuk mendapatkan surat pengantar. Tadinya udah males aja mbayangin bakalan ketemu petugas yang dulu lagi…. dih segitu dendamnya ya, qiqiqi…  Tapi alhamdulillaaaah, kagak kejadian deh tuh membuka luka lama. Petugas yang aku temui adalah wajah-wajah baru yang ramah dan baik-baik. Sebelum diproses, aku diminta menunjukkan lokasi makam almarhum Ibu, sepertinya itu ada hubungannya dengan penataan dan pendataan ulang TPU.

Selanjutnya aku dibuatkan surat pengantar ke kelurahan untuk membayar retribusi. Ohya, dokumen yang harus disiapkan adalah :

  • surat perpanjangan ijin penggunaan tanah makam sebelumnya
  • Kartu Keluarga ahli waris yang mengajukan ijin
  • KTP ahli waris yang mengajukan ijin

Mbak cantik yang bertugas di TPU Penggilingan lalu menyiapkan berkas pengajuan ijin yang akan dibawa ke Kelurahan. Setelah itu aku diminta membuat copy berkas sebanyak 2 set. Dan juga membeli materai 6000 rupiah untuk ditempel di surat pengantarnya. Satu copy berkas diserahkan ke petugas, satu copy lagi untuk disimpan pemohon, sedangkan aslinya yang bermaterai dibawa pemohon untuk diajukan ke Kelurahan.

Bisa pilih kelurahan mana saja untuk mengajukan permohonan ijin, asalkan masih di wilayah DKI Jakarta, karena sistemnya sudah online. Qodarullah kelurahan terdekat dari TPU Penggilingan adalah Kelurahan Jati. Jadilah aku kesana, dan langsung antri di loket PTSP alias Pelayan Terpadu Satu Pintu Kelurahan Jati. Dapet antrian nomer 94. Wah nomer gede juga ya, qiqiqi… tapi dari pemandangan yang terhampar di depan mata *uhukss*, kayaknya ga bakalan lama sih antrinya. Dan alhamdulillah, beneran gak lama. Banyak nomer yang kosong tanpa pemilik, hehehe…  Singkat cerita Kelurahan kemudian memberikan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD), SKRD ini harus dibayarkan di Bank DKI melalui teller, untuk mendapatkan tanda terima resmi  ber-stempel. Gak bisa lewat ATM.

Proses selanjutnya meluncur ke Bank DKI terdekat, wich is Bank DKI KCP Rawamangun. Rada keder juga nih urusan ke bank-nya. Bukan apa-apa, lokasinya itu lho… di samping toserba TipTop Rawamangun yang udah sohor macetnya ituuuh. Dan memaaaang…. ada kali 15 menit  mobil diam tak bergerak dalam kondisi nunggu antrian untuk parkir dowang. Begitupun di dalam bank, antri lagi…. dapet nomer 35, pada posisi antrian teller ada di nomer 26. Kali ini gak ada skip nomer seperti di Kelurahan tadi, semua nomer beneran ada yang pegang. Dan jangan sedih, teller tampak sendirian tanpa teman selama beberapa waktu. Jadi ya gitu deh, sabar yeee…. Rada bete juga sih sebenernya, bayar retribusi 40 ribu rupiah tapi antrinya mayan panjang. Coba bisa bayar di ATM bersama yak…

Selesai bayar  udah lumayan siang, sekitar jam 11 lebih. Sempet khawatir nggak keburu balik ke Kelurahan sebelum jam istirahat siang, tapi alhamdulillah lokasi bank dan kelurahan lumayan deket. Walaupun sempet nyasar karena salah belok, gak sampai muter-muter alhamdulillah bisa nyampai lagi deh ke kantor Kelurahan Jati. Setelah menyerahkan tanda setor SKRD ke petugas PTSP Kelurahan Jati, Surat Perpanjangan Izin Pengunaan Tanah Makam sudah bisa dibawa pulang, asli gak pake lama.

Catatan untuk petulangan kali ini *haishpreeet*. Jangan keder duluan ama birokrasi, insyaAllah keadaan sudah lebih baik dari jaman dahulu kala… Ribet ? iya sih, sempet kepikir ribet amat sih musti bolak-balik kelurahan bank kelurahan. Tapi menurutku hal itu lebih menjamin uang yang kita setorkan tidak akan salah alamat, semua tercatat rapi dalam sistem yang sudah online se DKI Jakarta. Bank sebagai pintu penerimaan dana dan Kelurahan sebagai pihak yang berhak mengeluarkan ijin. Penerimaan uang dan hak pemberian ijin kalau dipegang satu pihak saja rawan mengundang penyelewengan, gitu sih katanyaaaaah….

Soooo…. Alhamdulillah urusan perpanjangan ijin pemakaian tanah makam selesai dalam waktu beberapa jam sahaja.

 

 

 

.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s