Membungakan Kembali Amarilis

Pertama kali lihat di post temen di IG, tampilan terlihat lebih atraktif jika dibandingkan dengan amarilis yang pernah kulihat sebelumnya. Mupeng dong, secara sudah terbukti sebagai plant hoarder je, hehehe… Dari informasi yang aku dapat amarilis-amarilis cantik itu hasil impor, bukan produk lokal, yang berimbas pada harganya yang lumayan mahaaaal…. Kepengen sih tetep, tapi jadi kepikiran bisa gak amarilis impor bertahan hidup dan berbunga di Bekasi yang panaaasss… Harga mahal lebih nyeseklah kalau gagal, qiqiqi…

Tapi dari hasil ngobrol dengan temen yang sudah mencoba menanam dan juga dengan seller-nya langsung, jadi lumayan yakin kalau umbi amarilis impor itu bakalan bisa berbunga di Bekasi. Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah sekali berbunga, bakalan bisa berbunga ulang gak tuh ? Atau bakalan habis perkara end of story gak berbunga lagi ? Kan rugi bangeeeet… mosok beli mahal-mahal bakalan habis manis berlanjut nangis… Sekali berbunga doang ? Oh tidaaaak….

Dari penjelasan seller-nya, amarilis bisa berbunga ulang dengan beberapa perlakuan khusus. Penjelasannya sih cukup mudah dipahami, tapi sebagai simbok-simbok jaman now, gak sah dong kalau gak googling sana-sini dulu. Alhamdulillah nemu beberapa tulisan yang menambah wawasan dan memberi pencerahan. Sip, jadi yakin doong, untuk ikut menanam amarilis impor yang cakep-cakep itu.

Pertama kali tanam hasilnya sungguh sangat membahagiakan, hahaha….

Setelah selesai berbunga, dalam arti seluruh kuncup sudah melewati tahap mekar lalu layu, dimulailah proyek percobaan pembungaan ulangnya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memotong tangkai bunga yang sudah layu, sampai pangkal dan menyisakan daunnya untuk tetap tumbuh. Lalu biarkan tanaman menggendutkan diri dulu di media tanam, dalam jangka waktu kurang lebih 5 sampai 6 bulan. Siram secukupnya, dan jika dirasa perlu bisa ditambahkan pupuk. Aku sendiri hanya menyiram tanaman pagi dan sore saja, tidak menambahkan pupuk.

Kalau yang dari aku baca, umbi yang ditanam akan siap di-dorman alias diistirahatkan sebelum ditanam ulang apabila daun-daunnya mulai terlihat layu dan lemas. Teorinya sih begitu, ning lha kok setelah 6 bulan berlalu, tanaman amarilis-ku tidak menampakkan tanda-tanda lemas lunglai minta dibongkar. Tetap menumbuhkan daun yang segar bugar ijo royo-royo, piye kuwi jal…. Yang terlihat malah neng amarilis ini sibuk memperbanyak diri dengan muculnya pokok-pokok daun kecil di sekelilingya, nongol anakannya.

Dilema dah tuh… pengen bongkar umbinya, tapi takut menyakiti bayi-bayi amarilis disekitar tanaman induknya, ihiksss….

Tapi yang namanya niat, harus tetap dilaksanakan dong ya. Setelah mundar-mundur gojak-gajek beberapa kali, akhirnya eksekusi dilaksanakan juga.

Dan inilah hasilnya, satu indukan amarilis dengan 2 anakan lepas dan 1 anakan yang nemplok di tanaman induk. Agak ragu juga sih, beneran yang 2 anakan lepas itu beneran asalnya dari induk yang di pot itu atau bukan. Ewww… kasihan banget ya, judulnya jadi Anakan Yang Diragukan, atau ( kemungkinan ) Anakan Yang Tertukar… sinetron banget dah tuh.

Langkah selanjutnya adalah tanam ulang dulu anakan amarilis yang tercabut sebelum waktunya itu, tssaaaaah… dengan harapan dan doa agar mereka kelak bisa tumbuh dewasa berguna bagi nusa dan bangsa, eh berguna bagi tukang kebunnya, alias berbunga cantik jelita. Setelah upacara tanam ulang anakan selesai, langsung lanjut proses dorman umbi induknya.

20171105_160924106514423.jpg

Bersihkan umbi induk, potong daun sampai kira-kira 2-3 cm dari pangkal umbi. Potong juga akar-akarnya hingga menyisakan 2-3 cm. Keringkan lalu bungkus dengan kertas atau koran bekas. Selanjutnya simpan dalam kulkas alias lemari pendingin. Simpan di kulkas-nya ya, jangan nyasar ke freezer. Jangan lupa juga, kalau yang dibungkus kertas koran dalam kulkas itu adalah umbi amarilis, bukan bawang bombay bakal masak sop. Yang perlu diperhatikan adalah jangan meletakkan apel di dekat umbi simpanan kita, konon gas yang dikeluarkan apel bisa mengganggu proses pembungaan ulang amarilis.

Penyimpanan antara 6 sampai 8 minggu sih menurut yang aku baca. Tapi aku gak pede, jadi ada program extended version sampai hampir 4 bulan… Timbang gojak-gajek yo wis ditambahi wae. Setelah nyaris 4 bulan, keluarkan umbi dari kulkas, buka bungkus kertasnya, lalu angin-anginkan beberapa waktu dalam suhu ruangan. Setelah itu umbi kutanam ulang seperti saat pertama kali aku tanam dulu. Gunakan media tanam yang gembur dan porous, karena umbi amarilis tidak suka media yang becek dan tergenang. Untuk sinar matahari, tidak perlu penuh sepanjang hari. Bahkan pot amarilis kutaruh di teras rumah yang sebenernya nyaris tidak kena sinar matahari langsung, tapi tetap dalam kondisi terang benderang. Siram secukupnya, jaga jangan sampai tergenang.

Alhamdulillah setelah kira-kira satu minggu mulai tampak tanda-tanda kehidupan….

Daun duluan yang nongol, selanjutnya baru nongol tanda-tanda bakal bunga.

Bahagianya melihat penampakan bakal bunga berjejalan begini. Sepintas memang ukuran sedikit lebih kecil dari bakal bunga sebelumnya, tapi tidak mengurangi senangnya hati ini.

Daaaan… setelah menunggu beberapa hari, akhirnya mekar juga amarilis cantik yang satu ini.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s