Bukan Pamer

Di fb aku punya beberapa teman yang sangat-saangat inspiratif. Inspiratif-nya kebangetan malah, hihihi… enggak hanya berhenti pada tebar status ala seleb-motivator *uhuuuksss*, tapi juga bergerak turun langsung ke lapangan memberikan bantuan. Plus menebarkan ajakan untuk ikut turun tangan, entah itu ikut singsing lengan baju atau singsing eh buka dompet mengirimkan bantuan dana. Komplit lah wis pokok’e.

Nah, karena memang niatnya untuk menggalang kebersamaan untuk memberikan bantuan pada yang membutuhkan, mereka sering share atau berbagi kegiatan yang mereka lakukan, juga pengalaman-pengalaman mereka bersentuhan langsung dengan mereka yang membutuhkan. Berbagi pengalamannya tentu saja bukan macem laporan pandangan mata reporter tipi dong ya, yang cuma memberikan gambaran obyek yang perlu diberi bantuan. Tapi juga pengalaman menyentuh saat mengulurkan tangan mencoba memberikan bantuan.

Buatku tulisan-tulisan seperti itu menyentuh banget…  nabok-lah istilahnya, hahaha… Bagaimana mereka ngobrol dengan para dhuafa, membantu sedikit meringankan beban hidup sehari dengan membagikan makanan, atau usaha mereka untuk membantu membangun kesempatan agar para dhuafa itu bisa hidup lebih layak. Jangan dibayangkan mudah lho ya, kadang mereka harus pandai bersandiwara dan menyusun skenario agar bantuan mereka tidak ditolak. Ditolak ? iya ditolak… percaya deh, menerima bantuan for free bisa dianggap sebagai semacam kegagalan bagi  beberapa orang yang tiap hari terbiasa harus jatuh bangun untuk sekedar bertahan hidup… hal itu bisa menjadi  a very-very big deal for them, when pride is the only thing they have left….

Nah dari sekian banyak pembaca kisah-kisah insipiratif mereka, ha kok ya ada aja yang berkomentar miriiing, siniiiisss…. dengan tuduhan pamer bin riya. Lha sakjane riya itu apa to ? dari gugling nemu definisi seperti ini : Riya’ adalah seseorang beramal shalih dengan maksud untuk dilihat/dipuji oleh orang lain. Well, cukup jelas sih kamsudnya, berbuat baik dengan niat untuk pamer dan atau dipuji. Tapiiii… siapa sih yang bisa memastikan niat orang lain ? Bisa sih kita menebak-nebak dan mencoba membaca pertanda apa yang tersirat dibalik sebuah kisah… *etdah, jadi berasa kayak dukun*. Tapi tetep aja hanya Allah dan yang bersangkutan saja yang tahu pasti niat dibalik sebuah tindakan.

Dan kita  *kita ? guwe aja keles*, daripada jatuh pada salah sangka, lebih baik ambil enaknya saja to ? Berbaik sangka saja… berbaik sangka itu enak kok, bener. Jadikan kisah-kisah itu sebagai pengingat untuk selalu bersyukur. Iya aku tahu, bersyukur itu harus, kagak perlu lihat orang lain yang lebih susah lebih dulu baru kita bisa nyukurin, eh bersyukur… bersyukur lah karena kita pantas dan memang harus pandai bersyukur. Tapi ada kalanya memang kita *again, kita ? guwe aja yak’eeee* perlu ditabok dengan kisah-kisah yang menyadarkan kita bahwa banyak sekali nikmat yang luput kita syukuri, saat nikmat dalam hidup berasa take it for granted aja….

Memang ada ajaran dalam agama yang menganjurkan untuk beramal secara diam-diam saja, ibarat tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri tahu. Tapi sependek yang aku tahu, tidak ada larangan jika memang ada manfaat yang bisa diambil  saat amalan ditampakkan. Apalagi jika amalan yang ditampakkan itu tidak hanya menjadi sebuah teladan, tapi bisa sekaligus menjadi jalan agar kita bisa bareng-bareng membantu meringankan beban orang lain, beban berat akan terasa lebih ringan kalau dipikul bareng-bareng kan ?

Saat berat mari sama dipikul, dan kalau ringan ? berarti belanjanya kurang banyak… *eeeeeeeeeeeeeeeeeh…. just kiddiiiiiiing*

Mari berbuat baik dan menyebarkan kebaikan, yuk mariiiii….

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

One thought on “Bukan Pamer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s