Tentang Rencana Tuhan

Kadang aku emang kebangetan cengengnya… mataku tiba-tiba aja basah saat melihat salah satu murid SMP di Sekolah Melati Indonesia, sekolah inklusi di Bekasi tempat Fachri belajar. Biasanya anak-anak di usia SMP sudah mulai terlihat sok-sok cool. Gayanya pun kadang bisa bikin emak-emak kayak aku ini terjebak dilema antara pengen ngakak dan ngelus dada. Tapi tidak dengan anak yang kulihat siang itu. Si bocah SMP ini terlihat sibuk bertepuk tangan dan mengibas-kibaskan tangannya sendiri, pancaran wajahnya pun terlihat agak kosong…. Ya, bocah berseragam pramuka itu adalah anak berkebutuhan khusus, tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari hal itu.

Lalu aku inget anakku sendiri, lalu anak-anak yang kutemui saat menemani Fachri terapi, juga remaja bertampang bocah yang sering kulihat berkeliaran tak jelas di kampung sebelah rumah… dan seperti orang yang belum pernah kenal Tuhan, berhamburan berbagai macam pertanyaan atau malah mungkin gugatan muncul di kepalaku. Apa yang terjadi kelak jika mereka sudah dewasa ? bagaimana mereka bisa mandiri ? untuk apa Tuhan menghadirkan mereka ?

Lalu tiba-tiba saja ada denting bel di kepalaku, mengingatkanku tentang tulisan yang pernah kubaca tentang ‘perjodohan’ ajaib antara cicak dan nyamuk. Perjodohan dalam hal memangsa maksudku, bukan perjodohan ala Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih *disambit rendang sekilo*. Cicak adalah binatang yang nemplok di tembok, gak bisa terbang, gak bisa loncat, gak bisa ginkang ala sun go kong *sambiiit, sambiiiiit*. Sedangkan nyamuk adalah binatang tengil kecil yang kerjanya terbang kesono-kesini semaunya sendiri.

Tapi mereka adalah pasangan pemangsa dan yang dimangsa. Siapa yang menciptakan nyamuk sebagai makanan cicak ? siapa yang mendatangkan nyamuk pada cicak sehingga bisa hap lalu dilahap ? Cicak gak punya jaring lho, gak punya semprotan nyamuk, gak punya raket nyamuk juga… *etdah mbok*. Tapi Tuhan sudah menyediakan rizki untuk setiap makhluk-Nya di dunia ini. Yang diotak manusia ora nyambung pun bisa nyambung-nyambung saja kalau Allah yang menghendaki. Cicak nemplok di tembok, nyamuk terbang di awang-awang ? tetep bisa hap lalu dimakan kan ? no problem-lah itu.

Jadi ? untuk apa aku sibuk mempertanyakan rencana Tuhan ? emang siapa gue ? nangkepin nyamuk buat cicak aja gue kagak bisa…

Sebagai orang tua tentu saja aku harus berusaha sebaik mungkin menyiapkan bekal anak-anak ke depannya nanti. Karena semua orang juga tahu, umur manusia ada expired date-nya. Anak-anak adalah amanah bagi setiap orang tua. Tugas orang tualah untuk membesarkan dan mendidik mereka agar siap menghadapi masa depan. Tapi mempertanyakan apa yang akan terjadi nanti di masa depan, setelah tanggal jatuh tempo orang tua datang, rasanya sudah bukan kuasa kita lagi. Itu sudah masuk wilayah kekuasaan Allah..

Jadi ? eh kok jadi lagi to ?
Wis pokok’e seperti ajaran guru-ku yang pinter, cantik dan juga lucu, bu Rini. Berusahalah sebaik mungkin menjaga dan merawat amanah yang sudah dipercayakan Allah pada kita, berusaha semampu kita untuk mempersiapkan masa depan mereka. Lalu selebihnya serahkan pada Allah. karena Allah lah sebaik-baik penentu, sebaik-baik penolong….

Masih cengeng ? ya masihlah, tapi yang penting kan pikiran sudah lempeng, tidak pating clekunik lagi, tidak kebanyakan tanya lagi *sibak kudungan*.

Dan airmata seringkali perlu untuk mengingatkan betapa kecilnya kita dan betapa berkuasanya Allah. Seperti itu… *princess syahrini style*

.

wpid-dsc_04422.jpg.jpeg

.

10 thoughts on “Tentang Rencana Tuhan

  1. Saya sering berpikiran sama…tapi enali berbaik sangka pada Allah. Nyatanya selama ini jarang dengar berita ada orang berkebutuhan khusus terlantar hari tuanya. Insya Allah terlindungi

  2. pernah lihat iklan Thailand (klo ga salah) Que sera sera di youtube ga Mak? paduan suara dari anak2 spesial, mereka nyanyi di hadapan ibundanya.

    liriknya gini,
    “Que sera sera, whatever will be, will be. The future not ours to see. que sera sera..”

    slalu berkaca kaca mata ini tiap nonton itu..

    totoses

  3. Sekolahannya dekat rumah. Dan bagusnya, mereka tidak membedakan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak lainnya, hanya dalam pemberian materi belajar saja. Jadi, anak-anak lainnya sudah dididik agar terbiasa dengan ABK ya mak.

  4. Mak aku kok terharu ya bacanya😦. Ldg kita suka bertanya2 kpd Sang Pencipta mengapa begini mengapa begitu. Kalau suntuk sesuntuk-suntuknya malah kesannya kita menghakimi Tuhan. Padahal kita hanya disuruh menjalankannya saja. Semua sudah ada direncanaNYA. Sya jg sedih jika lihat abk, tp pasti Tuhan tahu yg terbaik buat mereka.

    Suka ikh sama filosofi cicak dan nyamuk nya. Ngena banget… Passsss

    • terima kasiiih… manusia juga sih, karena kita ini memang gudangnya tidak tahu, tapi kelakuan sering banget sok tahu, hahaha…. dengan belajar ilmu hikmah dan baik sangka, semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih ikhlas menjalani hidup ya, aaamiiiin… *selfreminder*

  5. itu aku sekali Mbak. Setiap kali memandang Fatih, selalu mikirnya begitu. Tapi diingatkan oleh suami, ada Allah yang akan menjaganya dengan caraNya. tetapi tetap saja sering melintas pikira seperti,”Bagaimana Fatih bila kami tiada..?”

    • jujur, gak sekali dua kali aku mikir seperti itu juga… tapi jangan pernah putus asa untuk belajar ikhlas dan percaya pada rahmat Allah… berusaha sebaik mungkin, lalu serahkan selebihnya pada Allah… *peluuuk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s