Tentang Sahabat Pena

images

Beberapa hari yang lalu aku menamatkan buku Andrea Hirata yang berjudul Ayah, bagus sih, walaupun menurutku gak se-menggigit Laskar Pelangi dan konco-konconya. Tidak bermaksud membuat resensi, cuma pengen cerita tentang  bagian di dalam buku itu yang membangkitkan kenangan lamaku tentang apa itu sahabat pena *Uhukkksss*. What the meaning of sahabat pena ? jiyaaaaaaah…. sahabat pena  adalah sebuah istilah sangat keren dan  cetar membahana pada jamannya. Jaman kapan itu ? jaman aku masih muda dong ah…. *benerin konde*. Udah lama banget dong ya ? ya belumlaaaah… beda-beda tipis aja ama jaman kuda gigit besi…. *kusambit bakiak kau*.

Yaaaah, harus diakui, sahabat pena adalah produk jadul yang populer diantara orang-orang yang lahir sebelum tahun 90-an. Bahkan  majalah yang menyasar kaum muda pada jaman itu bakalan gak dianggap keren kalau tidak ada kolom sahabat penanya. Tidak tahu apa itu kolom sahabat pena ? iissssssshhhhh…. kolom sahabat pena adalah sebuah halaman di majalah yang menampilkan foto dan data-data, termasuk alamat dan hobi, dari orang-orang yang ingin mendapatkan sahabat pena. So bisa dibilang semacam iklan gitu lah… cari poto yang paling cakep, isi data-data yang menarik, dan yang paling penting, di kolom hobi harus  ada pilihan surat menyurat  alias korespondensi-nya ! Dijamin bakal dapet banyak kiriman surat deh, hihihi… Dan memang itulah tujuan masuk ke kolom sahabat pena, untuk memudahkan kita ( kita ? guwe aja keles… ) mendapat teman surat-menyurat dari seluruh penjuru Nusantara, sejauh mana jangkauan majalah yang memuat foto dan data kita menyebar.

Seru ? seru doooong… kalau dipikir-pikir, mungkin ini bisa dianggap seperti menjaring follower di sosial media jaman sekarang. Hanya saja untuk sahabat pena bener-bener kudu ada interaksi timbal-balik, gak bisa kalau cuma satu pihak aja yang rajin kirim surat, sementara pihak satunya cuma diam trimo terima dan mbaca surat aja. Dimana asiknya laaaah…. Dan kalau dipikir-pikir, interaksi berkirim surat antar sahabat pena berbeda jauh dengan interaksi sahabat socmed jaman sekarang. Iya sih, dengan socmed, semuanya bisa berjalan dengan lebih cepat, nambah kenalan baru bisa dalam hitungan detik. Berinteraksi dalam percakapan alias ngobrol pun bisa live, langsung pada saat itu juga, seperti kalau kita ngobrol dan bertatap muka dengan orang yang kita hadapi langsung.

Dan justru disitulah aku melihat celah ‘kekurangan’ sahabat socmed, jika dibandingkan dengan sahabat pena. Dalam korespondensi alias hubungan surat menyurat, paling tidak dibutuhkan usaha untuk menulis sebuah surat. Tsaaaah… lalu apa susahnya menulis surat ? mungkin permirsah ada yang berpikir seperti itu. Tulis tinggal tulis ajaa, seperti lagi ngobrol di socmed itu lhooo…. Laaaah, ya gak gitu lah… Menulis sebuah surat lebih seperti ngomong sendiri panjang lebar, bercerita dan menjelaskan ini-itu sejelas mungkin, dengan gaya bahasa dan cara yang minimal tidak bikin pusing penerimanya. Dan kita baru tahu apakah tulisan  kita tersebut bagus atau malah bikin sakit kepala pembacanya, setelah lewat waktu beberapa hari. Lha  kok lama ? ya iyalaaaaah… emang surat bisa berteleportasi macam murid-murid Hogwarts ? ya enggaklah.. paling tidak tu surat kudu nunggu bentar di kotak surat, sebelum di angkut dan diproses di kantor pos. Kemudian tukang pos bakalan kring-kring nganter tu surat sampai ke alamat yang dituju. Nah setelah itu baru deh dibaca tu surat, dan ketauanlah sampai dimana kemampuan menulis si pengirim surat.

Sama-sama berinteraksi, menurutku menulis surat lebih membutuhkan waktu untuk berpikir jika dibandingkan ngobrol di socmed. Penulis surat punya banyak waktu untuk membaca ulang ataupun merevisi tulisannya sebelum surat terkirim. Tentu saja dengan harapan surat itu bisa menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuan si penulis, serta untuk mengindari salah paham. Sound so romantic ya ? *aiissssh preeet*. Sementara interaksi di socmed, lebih mirip ke bahasa percakapan yang dihurufkan. Pengguna socmed seperti tak punya waktu untuk mikir dulu sebelum menulis, tulis aja dah seperti saat ngobrol langsung di dunia nyata. Langsung berbalas kata gak usah pake mikir lama, kan sama aja toh ?

Sama ? ya enggaklaaaah…. kita sering lupa bahwa ada faktor penting dalam percakapan langsung yang bernama intonasi. Ngobrol via tulisan di socmed memang berasa seperti percakapan langsung, karena komentar dan jawaban nyaris bisa langsung kita terima pada saat itu juga. Tapi jangan lupa, minus intonasi ! dan itu bisa berbahaya sekali sodara-sodaraaaa…. satu kata atau kalimat bisa berubah artinya karena beda intonasi. Belum lagi urusan gesture dan atau mimik muka… semua itu sulit ditemukan dalam percakapan tulisan via socmed. Apakah surat menyurat bisa menampilkan intonasi juga ? memang tidak juga sih, tapi setidaknya menulis surat memberi kita waktu untuk meneliti ulang tulisan kita, agar maksud kita tersampaikan dengan jelas dan tidak terjadi salah paham. Itu poin yang cukup penting kalau menurutku sih…

Ngobrol tulisaan lewat socmed sekilas memang praktis dan lebih mudah akrab, jika dibandingkan dengan ‘ngobrol’  via surat tertulis yang  dikirim melalui kantor pos. Tapi seperti yang sudah aku tulis juga diatas, rawan salah paham… Kata dan kalimat berhamburan seringkali tanpa pemikiran panjang. Padahal kita tidak tahu persis suasana kebatinan teman ngobrol kita, lagi seneng, lagi bete atau lagi naik tensi. Bayangin aja, kita lebay cerita live lagi makan eskrim dingin-dingin enak cekali, sementara temen ngobrol kita lagi tersiksa sakit gigi level pengin makan orang. Mana kita tahu kan ? kan gak ketemu langsung… Padahal kalau tatap muka langsung, mungkin kita bisa membaca suasana, dan bisa mengerem pembicaraan agar tidak terjadi pertumpahan darah. Ngobrolnya pun biasanya serasa seperti ngobrol tatap muka biasa aja, menggunakan bahasa lisan yang seringkali tidak utuh kalimatnya, dengan anggapan bahwa lawan bicara langsung paham, sama seperti saat kita berhadapan langsung.

Mungkin itu juga yang menjadi salah satu sebab maraknya tawuran kata di socmed. Perbedaan pandangan selalu ada, tapi kan bisa dibicarakan atau didiskusikan secara sopan dan bermartabat. Tapi yang terjadi adalah bahasa lisan pindah dan digunakan begitu saja sebagai bahasa tulisaan di socmed. Penulisan yang terburu-buru, tidak merasa perlu untuk berpikir ulang, banyak kalimat tidak utuh…  Kalimat yang tidak utuh mungkin bisa dipahami dengan bantuan intonasi dan atau mimik muka, kalau yang ngobrol bertatapan langsung. Lha tapi kalo di socmed yang nongol kan tulisannya doang…. minus intonasi. Tanda baca ? ada sih, tapi seringkali tidak cukup menggantikan fungsi intonasi dan mimik muka pembicaranya. Maka jadilah, kalimat  yang dimaksudkan biasa-biasa saja, bisa dianggap sebagai kalimat yang ngajak perang oleh pembaca yang hatinya sedang panas, karena merasa pendapatnya dianggap salah.

Laaaah, jadi panjang aja ini bahasannya… padahal aku juga bukan orang yang pinter bahasa, dan jangan tanya berapa nilai Bahasa Indonesia di NEM-ku dulu… Apa itu NEM ? cuma orang-orang yang pernah mengalami masa kejayaan sahabat pena aja yang tahu…. *sibak kudungan*.

.

gambar dari : http://www.hpiemblem.com

.

4 thoughts on “Tentang Sahabat Pena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s