Kangen Solo

banner

.

Beberapa hari lalu aku nemu tautan tentang Kompetisi Tulisan Tentang Solo. Dan swiiiiing…. tiba-tiba ada rasa hangat menyapa dihati *aiiiissssh*. Apa kesanku tentang Solo ?  Tapi sebelumnya lebih baik diperjelas dulu sih, dimana posisi-ku saat ini… orang Solo kah ? pengunjung Solo kah ? atau mantan orang Solo ? dan jawaban terakhir mungkin adalah jawaban yang paling tepat. Sudah lebih dari 25 tahun aku melepaskan status warga Solo. Jadi kalau saat ini aku ditanya apa kesanku tentang Solo, kalimat yang bersliweran di kepalaku adalah kenangan, masa muda, sahabat lama,  dan segala macam istilah yang berhubungan kuat dengan masa lalu. Aku lahir dan dibesarkan di Solo, melewatkan sebagian besar masa sekolah di kota itu. Bangku kuliah-lah yang akhirnya membawaku keluar dari Solo, berlanjut hingga bekerja dan membangun keluarga jauh dari kota kelahiran.

Dan saat berada jauh dari Solo, dengan bangga aku akan mengatakan bahwa aku orang Solo, meskipun kadang  dipaido alias tidak dipercaya gara-gara nama dan postur tubuhku yang tdak nJawani sama sekali. Putri Solo kan terkenal ayu gandes luwes sementara aku lebih cocok di sub-judul grasak-grusuk bin pecicilan. Sementara nama Pingkan tidak mengindikasikan Jawa sama sekali,  nama perempuan Jawa biasanya lekat dengan akhiran -ti, -ning ataupun -sih. Jadi nama Susilowati, Nuringtyas atau Naningsih, cocok lah untuk orang Jawa … jadi kalau nama Pingkan ? ewww, yakin sampeyan orang Jawa ? Hahaha…

Saat masih tinggal di Solo, Solo dan segala isinya kuterima sebagai sesuatu hal yang biasa saja, memang begitulah adanya, take it for granted-lah istilah londo-nya. Dan begitu menjalani hari-hari di ibukota, sadarlah aku, betapa berharganya Solo, dan aku kehilangan Solo… Solo dengan iramanya yang tenang, Solo yang masih memberi kesempatan menikmati pagi tanpa takut dikejar waktu, Solo dengan  percakapan berbahasa Jawa-nya yang ramah dan renyah, Solo dengan berbagai jajanan yang pas di lidah dan kantongku…. Segala sesuatu yang dulu begitu mudah kudapatkan sehari-hari, beralih posisi menjadi sesuatu yang sulit kutemui. Maka jadilah, aku didera kangen Solo, dan ‘pulang kampung’ adalah frasa ajaib untuk menyembuhkan demam kangen-ku.

Mungkin aku termasuk beruntung karena kuliah di kota yang relatif tidak jauh banget dari Solo ( lagian kapan sih orang Jawa rugi… :p ). Jarak yang membentang masih bisa ditempuh dalam waktu satu malam saja dengan menggunakan alat transportasi darat. Berangkat sore, malamnya tidur di bis dan besoknya sudah bisa menghirup udara pagi di Solo. Jadi di tahun-tahun awal kuliah aku masih sering nekat, sempat gak sempat kudu sempat pulang ke Solo, nyaris sebulan sekali. Berangkat Jum’at sore dan Senin pagi sudah nongol lagi di kampus-ku di daerah Jurangmangu-Bintaro. Sampai-sampai kenek bis Jakarta-Solo di terminal Lebak Bulus sudah bisa niteni dan menyapa ramah,  “Kondur mbak ?”, ah belum menjejakkan kaki disana-pun aroma Solo sudah menemui-ku di pintu bis antar kota, hehehe….

Saat ini, hal itu memang sudah tidak bisa kulakukan lagi. Kesibukan dan tanggung jawab sebagai pekerja dan ibu empat anak tidak mengijinkan aku untuk sering ubyang-ubyung pulang ke Solo seperti jaman kuliah dulu. Dan moment yang paling kutunggu untuk menuntaskan kangen Solo-ku adalah saat pulang kampung di hari raya alias mudik Lebaran. Selain untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga, mudik juga memberiku kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama, baik yang sama-sama terseret nasib pindah dari Solo, ataupun yang masih menetap di Solo. Lalu ‘napak tilas’ muter-muter di kota Solo sambil mengingat-ingat dan membandingkan mbiyen piye saiki piye kondisi Solo dulu dan sekarang.

Mustahil-lah menginginkan ketemu Solo yang sama persis plek dengan Solo yang dulu. Sudah seperempat abad berlalu sejak aku menanggalkan status sebagai warga Solo, jelas sudah sangat banyak yang berubah. Dan saat ini boleh-lah aku umuk membanggakan Solo yang makin cantik dimataku. Fasilitas sosial dan fasilitas umum yang tertata rapi, mulai dari city walk cantik yang membentang di jalan utama kota Solo,  lalu Stadion Manahan dan hutan kota-nya, Monumen 45 di Banjarsari, sampai terminal baru Tirtonadi dengan tampilan barunya yang  kinclong. Belum lagi event-event budaya yang sering diadakan dan terjadwal rapi di Solo, seperti Sekaten, Grebeg Maulud, Maleman Sriwedari, Solo Batik Carnival, Festival Keroncong sampai  Solo International Performing Arts  atau SIPA

Saat ini Solo bukan lagi sekedar kota untuk pulang saja bagiku.  Lebih dari itu, pulang ke Solo juga memberiku kesempatan untuk berwisata bersama suami dan anak-anak. Ada kereta uap Jaladara dengan jalur istimewa yang membelah pusat kota Solo, bus wisata Werkudara, taman Balekambang, museum Radya Pustaka sampai situs-situs peninggalan jaman kerajaan yang banyak bertebaran di Solo dan sekitarnya. Dan sebagai mana lazimnya emak-emak *aheeeem*, wisata belanja termasuk dalam daftar kegiatan wajib-ku. Untuk urusan belanja batik, Kampung Batik Laweyan-lah tujuan utamaku. Senang rasanya blusukan di perkampungan yang dari jaman dahulu kala sudah terkenal sebagai daerah sentra batik. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan bangunan-bangunan yang masih mempertahankan gaya bangunan lama benar-benar memberikan sensasi wisata belanja tersendiri. Selain itu ada juga Pasar Klewer yang sudah  menjadi legenda pasar batik di Solo. Atau  kalau ingin mampir ke pasar lain yang menyediakan berbagai pilihan batik, masih ada BTC ( Beteng Trade Centre ) atau PGS ( Pusat Grosir Solo ) yang berlokasi di Gladag, tidak terlalu jauh dari Pasar Klewer Solo. Atau kalau ingin berbelanja barang antik, sempatkan untuk berkunjung ke pasar barang antik Windujenar di kawasan Ngarsopuran,dijamin kalap deh, hahaha….

Untuk urusan wisata kuliner, anak-anak tidak pernah mau melewatkan kunjungan ke soto Triwindu. Pun masih ada pilihan makanana lain yang sedap untuk disantap seperti sego liwet, tengkleng, selat Solo, sate buntel, tahu kupat, timlo solo sampai mencoba uniknya sate kere di kawasan Ngarsopuran. Untuk urusan camilan, ada srabi notosuman, sosis solo, kue lekker, sampai roti mandarijn toko roti Orion yang sudah sohor dari jaman dahulu kala itu. Masih ditambah lagi dengan berbagai camilan kering seperti keripik paru, usus ayam goreng, intip ( nasi kering ) goreng, dan berbagai snack tradisional lain yang mudah didapatkan di toko oleh-oleh yang banyak tersebar di Solo. Untuk urusaan wisata kuliner, bisa dibilang Solo termasuk  surganya…..

Sebagai ‘mantan’ warga Solo, aku bangga karena Solo sudah banyak berbenah dalam posisinya sebagai kota tujuan wisata. Pilihan wisata budaya, wisata alam, wisata belanja dan wisata kuliner menawarkan banyak pengalaman menarik bagi para pengunjung Solo, bahkan untuk aku yang pernah cukup lama tinggal di Solo dan bisa dibilang sudah ‘kenyang’ Solo…..

Solo pancen ngangeni….🙂

.

.

kota-solo.

.

mangkunegaran2Istana Mangkunegaran

.

kasunanakeraton Kasunanan

.

radya_Pustaka2

Museum Radya Pustaka

.

??????????Pasar Gede Solo

.

blTaman Balekambang

.

ngarsoPasar barang antik Windujenar

.

3kampung Batik Laweyan

.

klpasar Klewer

.

5453081744_d256ea4a4a_bacara budaya Grebeg Maulud

.

wo gabungan 2pagelaran Wayang Orang

.

glbwisata kuliner Gladag Langen Boga

.

13 (1)sepur kluthuk Jaladara

.

werkudara_0bis tingkat Werkudara

.

.

foto-foto dari : http://www.surakarta.go.id

.

20 thoughts on “Kangen Solo

  1. Lembur kuring mah tetep lembur kuring. Aku juga udah lebih 15 taun di bandung tetep merasa orang Tasik, bukan orang Bandung…😀

    Eh, Mbak…. itu sepurnya jalan di jalan raya?
    Aku belum pernah ke solo… ajakin dong kapan-kapan…:D

    • sepurnya ya di jalan sepur lah Nop… tapi jalurnya membelah kota Solo, jadi berjajar dengan jalan utama kota Solo… Unik kan, jarang ada jalur kereta yang melewati pusat kota…
      ayo ke Soloooo….😀

  2. Terharu aku membaca tulisan mbakyu ini, banyak cara untuk mengucapkan terima kasih untuk kota tercinta, salah satunya dengan membuat tulisan seperti ini,…….sekali lagi Senang saya membacanya. Ditunggu cerita-cerita yang lainya

    • konon tengkleng yang paling tenar sak Solo adanya malah di pasar Klewer, tapi mungkin di pasar Gede ada juga sih, aku malah kurang begitu paham… Kalau soal dawet sih iya, dawet paling sohor di Solo adalah dawet ayu yang ada di pasar Gede…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s