Perjanjian Pra-Nikah ? Mbok ya Biarin Aja….

184128_prenup362

Jadi pengen nulis soal perjanjian pra nikah gegara postingan temenku di fesbuk. Ceritanya ni temen upload foto artikel di koran tentang perjanjian pra nikah. Emang lagi hits sih topik itu, secara ada  mantan artis merangkap anggota dewan yg lagi ribut mo cerai dengan membawa-bawa perjanjian pra nikah. Haissh, malah ngelantur…. Mari kita tinggalkan infotainment-mode-on, back to topic, jadi  dimata temenku itu membuat perjanjian pra nikah adalah suatu hal yang salah, lha wong nikah kok udah mikir gimana nanti kalo cerai, gak usah nikah aja kalo gitu, itu salah satu isi komentarnya. Dan dibawah foto yang di-upload ada caption : Sudah salah kaprah dalam memahami arti sebuah pernikahan……bgm menurut anda?  Haiyaaaa, bgm menurut anda?  kalimat itu yang  seakan melambai-lambai bagai nyiur di tepi pantai bagiku *lebaaaaaaiiiiii*, seakan mengundang untuk segera ikut nimbrung berkomentar….

Lha piye to, mosok perjanjian pra-nikah dianggep sebagai tanda-tanda orang gak seriyes mau nikah, alias nikah dengan tujuan ntar mau pisah. Lha ya enggak gitu to ya…. Tapi mungkin yang membuat masalah perjanjian pra-nikah ini jadi beraroma sensi adalah kondisi awal sebuah pernikahan yang biasanyan dipenuhi wangi cinta-cinta-cinta dan cintaaaa melulu… maunya percaya-percaya-percayaaaaa aja… jadi kalo ada perjanjian pra-nikah wich is itu artinya membicarakan kemungkinan kegagalan, langsung aja berasa dan dianggap mencederai niat percaya, harapan dan cintaaaaa sang  mempelai berdua…. *tribute to Percaya Harapan dan Cinta by Titiek Sandhora n Muchsin Alatas*

Kalo sudah ngomongin ‘rasa’ emang susah sih ya…. *garuk-garuk jidat*. Tapi ya tetep aja, kalo menurutku perjanjian pra nikah bukanlah suatu aib, tapi sesuatu yang bisa aja gitu, sama dengan perjanjian-perjanjian lainnya. Kalau ditanya apakah aku membuat perjanjian pra-nikah ? jawabnya sih emang enggak. Tapi itu juga bukan berarti aku menganggap perjanjian pra nikah adalah sesuatu yang tabu. Bad things happen, jadi kalau ada yang merasa perlu membuat jaring pengaman tambahan ya silahkan saja. Di dunia ini banyak kisah pernikahan yang alhamdulillah sukses besar insya Allah dunia akhirat, karena diisi oleh pasangan-pasangan hebat, yang di sepanjang usia pernikahan bisa saling mengisi, saling setia senada seirama *etdah jadi kayak judul acara tipi jadul*. Tapi gak sekali dua kali juga aku nemuin kisah sedih pernikahan yang harus bubar di tengah jalan, padahal kalau ditanya, pas awal-awal menjalani-nya juga sama penuh cinta dan optimisnya dengan pernikahan yang bisa berjalan langgeng sukses sampai akhir.

Dan dari kisah-kisah sedih itu, ada beberapa yang menyisakan potret perempuan setengah baya tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan dengan pengalaman kerja yang minim. Padahal perempuan itu dulu berhenti bekerja juga atas permintaan suaminya. Karena gak bisa dipungkiri, dimari peran domestik memang nyaris identik dengan perempuan. Tinggal di rumah mengurus rumah seisinya, sementara sang suami lah satu-satunya the bread winner di keluarga. Dan jegeeeer.. begitu kapal oleng, apa yang bisa dilakukan sang perempuan ? Kalau suaminya  bukan tipe laki-laki yang colong playu tinggal glanggang  dan masih ada niat untuk tanggung jawab sih mungkin masih gapapa. Lha tapi kenyataan yang ada adalah lagu-nya Basofi Sudirman je, alias tidak semua laki-lakiiiiiiiiiiiii….. *ndangdut-mode-on*. Haruskah perempuan bertahan dan menelan semua kepahitan akibat kondisi finansial yang  tergantung 100% ke suami, atau berani mengambil langkah sendiri dengan konsekwensi harus berani jatuh bangun mencoba mandiri. Padahal kenyataannya  gak gampang buat perempuan setengah baya minim pengalaman kerja untuk bisa mendapat pekerjaan di sektor formal. Sektor informal ? itu juga bukan perkara enteng sodara-sodara…

Mungkin bagi sebagian orang pre-nuptial agreement adalah hal yang memalukan, tapi bagi sebagian orang malah bisa menyelamatkan. Dan buat aku intinya itu aja sih, perjanjian pra-nikah bukanlah masalah benar atau salah, di dunia ini ada berbagai macam jenis manusia, dengan berbagai kemungkinan yang kadang tak terpikirkan bakal terjadi. Setiap pasangan punya  latar belakang dan kondisi masing-masing,  jadi silahkan saja  mo membuat atau tidak membuat perjanjian pernikahan, monggoooo….. Jangan pula menghakimi pasangangan yang membuat pre-nuptial agreement sebagai pasangan yang tidak niat seriyes menjaga kelangsungan rumah tangganya. Orang naik mobil pake seat belt kan juga gak berarti niat pengen tubrukan to ? cuma analogi sederhana aja sih…. *mrenges*

Iklan

26 thoughts on “Perjanjian Pra-Nikah ? Mbok ya Biarin Aja….

  1. aku mudenge nek perjanjian pra nikah kuwi buat ngatur hal2 abstrak misale,
    nek misale pas nikah sang suami bertindak bla bla bla maka istri berhak bla bla bla..
    bukan yang harta gono gini gunu gene gituuu..

    matur mbah nuwun infonya..
    dan setuju, perjanjian pra nikah itu sah sah aja tergantung kesepakatan pasangan tersebut, nek wong njobo ki yowis rasah ipyik wae ngurusi rumah tangga orang hehehe

  2. suka tuh sama analoginya, pake seatbelt.. pernah dibahas juga sama temen, napa sih pake perjanjian pranikah, kaya nikah mo bubar aja.. padahal itu bagus juga buat siapsiap.. lain lain pikiran orang sih ya.. emangnya nikah mo cerai? curiga aja dulu.. emang sih blom biasa perjanjian pranikah dimari.. beda sama yang udah berfikir ke depan gimana..

  3. Orang naik mobil pake seat belt kan juga gak berarti niat pengen tubrukan to ? cuma analogi sederhana aja sih….
    saya suka kalimat ini 🙂

    dah lama ga melihat bukpink posting panjang2 🙂

    • pa kabar oom yang ( ngaku-nya ) paling ganteng… 🙂
      makasih sudah mampir dimariii… *etdah sopan kali diriku*
      btw, gimana kabar rumput n taman di rumah ? masih ada nyawa-nya kah ? :p

  4. Perjanjian pra nikah bukan hal yang buruk, justru melindungi keluarga mereka.

    Sekarang coba pikirkan, kalau mereka punya usaha, atas nama suami umpamanya. Lantas kemudian bangkrut dan hartanya disita bank. Kalau gak ada perjanjian pranikah, semua harta disita karena dianggap harta bersama. Tapi kalau ada perjanjian pranikah, bank gak bisa menyita semuanya, karena beberapa aset atas nama istri
    Ya apa ya?

    Trus lagi untuk pasangan beda kewarga negaraan. Di Indonesia, untuk para perempuan yang bersuami warga asing, walaupun si perempuan masih memegang paspor Indonesia namun hak2nya dikebiri, salah satunya adalah tidak bisa memiliki properti di Indonesia. Bagaimana kalau sudah punya properti sebelum menikah? Mau gak mau kudu dijual atau dihibahkan, kalau tidak, ya berubah jadi hak sewa yang biasanya berlangsung sekian tahun dan kudu diperbaharui kalau hak sewanya habis, bukan hak milik. Kalau hak sewa,
    Cakep kan?

    Kalau ada perjanjian pranikah, properti tsb tetap menjadi milik si perempuan alias hak milik.

    • saat ini begitu mendengar soal perjanjian pra pernikahan kebanyakan orang masih berpikiran tentang rebutan harta dan perceraian sih, jadi ya gitu deeeeh…. 😦

      terima kasih banget tambahan info-nya ya jeng, terus terang aku sendiri juga belum tahu secara detil apa saja isi perjanjian pernikahan itu…

    • pasti pas ngomong “ya saya bersedia” Mamah gak bisa pasang muka lempeng..
      kira-kira Mamah pasang muka apa ya ?
      *tebak-tebak berhadiah*

  5. Aku jg baca kok postingan tmn sampeyan itu dan aku setuju dgn perjanjian Pra Nikah. Aku bicara begini bukan karena aku perempuan atau pro perempuan, tp krn pengalaman pribadi dimana aku melindungi semua milikku yg sdh ku miliki seblm menikah krn itu adalah hasil jerih payahku sendiri seblm ato sesdh mengenal pasanganku dan amat sgt sayang skali kalo sampe lepas dari tangan krn di aku2in sbgi milik pasangan kita atau yg jeleknya lg klo barang bergerak lgsg main dibawa kabur.

    Thank for sharing …

    • setiap orang punya alasan masing-masing dalam masalah perjanjian pra-nikah ini, sebenernya itu poin utamaku sih… jadi tidak perlulah menyalahkan yang bikin perjanjian seperti yang diungkapkan temenku itu… 🙂

      terima kasih juga sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s