Dongeng Simbok : Petruk Dadi Ratu

Sebenernya agak berat juga sih nyeritain soal Petruk ini, abot gitu. Karena cerita yang berasal dari dunia pewayangan ini adalah jenis cerita carangan, alias kembangan, alias tambahan dari cerita utama mahabharata yang asli. Liat aja, mana ada tokoh Semar-Gareng-Petruk-Bagong di sinetron Mahabharata made in India yg tayang di tipi beberapa waktu yang lalu. Jadi bisa dibilang the Punakawans ini cerita tambahan produk lokal made in dalam negeri.
Nah berhubung ini cerita carangan, maka kisah ini tidak tertulis di buku induk Mahabharata. Dan dari gugling sana-sini, aku nemu beberapa versi yang agak berbeda. Gak banyak sih bedanya, beda-beda tipis aja gituuu…. Tapi sebenernya sih yang kulihat intinya sama, kisah ini isinya nyrempet-nyrempetlah sama omongan mas Lord Acton, bahwa power tends to corrupt, absolute power corupt absolutely. Serem yo ? qiqiqiqi…. Jadi ben ora medeni, aku ceritain berdasarkan apa yang aku tahu aja ya… Wich is yang dulu aku dengar dari dongengan pengantar tidur yang dituturkan ibukku saat aku masik cilik menthik, ehem….. Dan suwer-ewer-ewer, lewat penuturan ibuku, cerita ini menjelma menjadi cerita yang lucu sangaaaat. Tak bosan-bosan pula aku minta diceritain lagi, lagi dan lagiiii… Dongeng kaporitku lah wis…
Ewwww… tapi kalo aku yang nyeritain gak tau juga ya, bisa lucu juga atau malah jadi enggak lucu babar blas. Kayaknya sih enggak, tapi ben lah wis…. biarin aja. Gimana kalo malah jadi garing-kriuk-kriuk ? resiko ditanggung pembaca lah ya ? *krukupan wajan*.
Soooooooo….

Kocap-kacaritooooooo…. Negara Amarta sedang dalam kondisi morat-marit ora karu-karuan. Kekisruhan dan kriminalitas ada dimana-mana. Aturan hanyalah tinggal menjadi aturan diatas kertas. Penguasa yang seharusnya menjadi teladan malah sibuk dengan kepentingan pribadi serta golongannya sendiri aja. Gak mikirin kesejahteraan rakyat yang seharusnya menjadi tanggungg jawabnya. Sibuk menumpuk harta dan mengejar kesenangan dunia semata, manut karepe dewe wae. Sehingga negara berada di titik yang sangat jauh dari posisi toto tentrem kerto raharjo. Dan kalau sudah begitu, siapa yang ketiban pulung ? siapa yang ketiban sial paling parah ? lha ya rakyat lah…

Dan Petruk, sebagai seorang punakawan alias abdi alias pelayan alias rakyat kecil yang ketiban diinjek-injek melulu, tentu saja lama-lama merasa geram dan ora trimo. Lalu dengan nekatnya Petruk nyolong jimat sakti Kalimasada milik penguasa Amarta yang tak lain adalah Pandawa yang juga bendoro, majikannya sendiri itu. Soooo… pegang jimat sakti, je…. jadi sakti juga dong si mas Petruk ini. Dan dengan level kesaktian yang meroket berkat jimat Kalimasada itu Petruk lalu mengobrak-abrik tatanan korup yang sedang merajalela di Amarta. Sukses besar dong….

Keluar sebagai pemenang, Petruk lantas mendudukkan dirinya sendiri di singgasana raja di kerajaan Amarta. Berhubung sudah madeg dadi ratu, Petruk merasa berhak mendapat nama dan gelar baru. Nama baru yang dipilih adalah Prabu Kantong Bolong. Dan awas kalo berani ngetawain nama besar sang Prabu, bisa kuwalat you know…. etapi ada juga yang mengisahkan bahwa setelah menjadi raja, nama Petruk berubah menjadi Prabu Tongtongsot Belgeduwelbeh…. Gak kalah ancur juga yak ? mbuh wis, qiqiqiqi….

Begitulah, jalan cerita membawa Petruk yang tadinya seorang abdi, berubah posisi seorang raja yang berkuasa penuh dan punya jimat sakti mandraguna bernama jimat Kalimasada. Tapi sayangnya, as Lord Acton said, power tends to corrup. Setelah memegang kekuasaan, ternyata dengan cepat perilaku Petruk pun mulai berubah. Sang mantan abdi ini bersikap tak jauh beda dari penguasa yang sudah dilengserkannya dahulu, petantang-petenteng, adigung-adiguna, mikir butuhe dewe, berlaku sak karepe dewe.

Semar yang dari awal sudah tidak menyetujui tindakan Petruk menjadi gerah. Tapi ksatria manakah yang bisa mengalahkan sang Prabu Kantong Jebol, eh Kantong Bolong ? Dengan jimat Kalimasada di tangan, jangankan para ksatria, para Dewa pun jiper dibuatnya. Namun Semar yang memahami apa dan bagaimana Petruk, menemukan akal bagaimana carannya mengalahkan sang Prabu newbie ini. Bukan ksatria berilmu tanding yang tinggi, atau senjata nuklir dengan teknologi terbaru yang dikirim *etdah ngawurnya*. Tapi Bagong lah yang dikirim. Yak betul, Bagong, buntutnya para punakawan yang tidak punya bodi jago berantem sama sekali-lah yang diutus untuk menumpas kejahilan sang Prabu Kantong Bolong.

Jika yang nongol adalah para ksatria gagah perkasa yang siap tanding, tentu saja Prabu Kantong Bolong akan segera memasang kuda-kuda siap tempur. Jangankan nyenggol, mendekat dalam radius beberapa meter saja para ksatria itu tidak akan mampu. Tapi karena melihat yang mendekat adalah Bagong yang jalannya saja eglang-eglong, Sang Prabu merasa tidak perlu memasang sikap waspada. Toh Bagong juga tidak membawa senjata atau pusaka apapun. Sehingga akhirnya Bagong pun bisa mendekati sang Prabu sampai jarak yang bisa tergapai tangan.

Dan memang benar, Bagong tidak membawa senjata apapun. Karena satu-satunya senjata yang akan digunakannya untuk mengalahkan sang Prabu adalah kedua belah tangannya saja, kosong tanpa pedang, golok, sangkur, Uzi, M16 ataupun AK-47. Lalu apa yang dilakukan oleh Bagong dengan kedua tangan kosongnya itu ? Mengitik-itik sodara-sodaraaaa, menggelitiki !! Segera saja jari-jari Bagong melancarkan aksi menggelitik badan sang Prabu dengan hebatnya. Tak menyangka akan mendapat serangan jurus itik-itik, segera saja sang Prabu kehilangan kemampuannya untuk melawan. Ampun Bagoooong, wuixixixixi…. Sudah Bagooooong, jiyahahahah….. Kapok Bagoooooong, wuekekekek….. uwiiiiiiiiiiiiiissss, ampuuuuuuuuuuuuuuuun, huwahahahah…. enggak lagi-lagiiiiiiiiiiii…… tobaaaaaaaaaaaaaat… wkwkwkwkwkwkwkwk….. Gedusraaaaaaaag, akhirnya sang Prabu Kantong Bolongpun menyerah kalah….

Dan demikianlah kisah Prabu Kantong Bolong aka Petruk Dadi Ratu yang bisa aku ingat dari penuturan dongeng ibuku. Ada sebagian orang yang menerjemahkan jimat Kalimasada dalam kisah ini sebagai amanah dari rakyat. Pusaka yang sejatinya berasal dari rakyat jelata, diserahkan pada para penguasa agar mereka bisa menjalankan fungsi dan tugas mereka untuk mengayomi dan mensejahterakan rakyat. Jika mereka tidak bisa menjaga jimat itu, dan tidak bisa menggunakannya dengan baik dan benar, maka jangan heran kalau pusaka itu diambil kembali oleh rakyat, sehingga sang penguasa akan kehilangan legitimasi dan kekuatannya.

Ewwwww…. seriyus bener ini endingnya, qiqiqiqi….

Well, akhirnya Amarta kembali pada tatanan lama yang tentram dan damai. Pandawa kembali memegang kekuasaannya, tentu saja dengan kesadaran baru yang didapat dari hikmah ontran-ontran Petruk dadi Ratu. Sedangkan sang mantan Prabu Kantong Bolong, kembali pada posisinya semula sebagai Petruk, abdi yang hepi, bebas dari kewajiban puyeng tiap hari gara-gara mikirin urusan negoro, heheheh….

peace ah !! :))

note :

– Dalam bahasa jawa, Ratu bisa diartikan sebagai Raja, jadi maksudnya bukan istri raja, atau raja perempuan, bukan pula duo penyanyi yang hitsnya Aku Baik-Baik Saja itu *kumat nggladrahe*
– Dan kalau ada koreksi yang ingin disampaikan silahkan saja yaaaa….

53 thoughts on “Dongeng Simbok : Petruk Dadi Ratu

  1. *ikutan duduk khusyu’ baca cerita.:)agak menyesal dulunya, jarang2 nonton wayang kulit.gara2 pernah disemprot dalang, saat nanya,” Wayang kulitnya bs digoreng nggak, pak…”

  2. walah said: kisah iki meskipun carangan, tapi filsafat.e luwih abot seko crito asline sko India yo mbakyu… ono meneh Gareng Dadi Ratu lho…

    lho ono to ? nembe ngerti aku, mengko nggugling maneh ah….

  3. saturindu said: *ikutan duduk khusyu’ baca cerita.:)agak menyesal dulunya, jarang2 nonton wayang kulit.gara2 pernah disemprot dalang, saat nanya,” Wayang kulitnya bs digoreng nggak, pak…”

    jyahahahahahaha….. krupuk rambak doooong….:D

  4. Ndongeng lagi bukPing, aku sukaaDulu nyimak Mahabharata RA Kosasih aja, aku ndak tau banyak soal Punakawan selain mereka muncul pas goro2 di pewayangan Sopo yo penguasa bijak saikiJimat kalimusada kata Eyang dulu, kalimat syahadat, wallahu’alam bener ato engga

  5. pingkanrizkiarto said: qiqiqiqi…. menawi kulo taksir waras lho mas…..:D

    Sukur alhamdulilah….hehehehe…jeng mau aku takon Perkebunan ning kene, nek wit kembang ora metu kembange nopo?, jarene kurang Phosphor , mbokyo nggoleki ning Ganrten Center JKT opo ono…

  6. sicantikdysca said: simbooooook, aku ngakak koq baca ceritanya. Artinya simbok lucu donk ya?… :)))etapi kondisinya sama dgn kondisi bangsa kita saat ini. šŸ˜¦

    makaciiiih….miris ya neng ? šŸ˜¦

  7. miapiyik said: Ndongeng lagi bukPing, aku sukaaDulu nyimak Mahabharata RA Kosasih aja, aku ndak tau banyak soal Punakawan selain mereka muncul pas goro2 di pewayangan Sopo yo penguasa bijak saikiJimat kalimusada kata Eyang dulu, kalimat syahadat, wallahu’alam bener ato engga

    makasiiiih…alkisah memang begitu, asalnya dari istilah kalimat syahadat. konon itu merupakan salah satu upaya Wali Songo untuk menyebarkan agama islam di tanah jawa, lewat kebudayaan…:)

  8. jandra22 said: Wah pinter tenan iki yen kon nyritakna kahanan masa kini ing dunya jagad sing kurang waras hahahahaha……. Gekgek njenengan putra turunane Ki Narto Sabdho?

    hahahahah… matur nuwun sanget mbakyuuu….gak ada turunan dalang kok, tp bapak-ibu saya dua2nya guru, jadi nurun seneng critonya, heheheh….

  9. maaf sblumnya..yg sya tahu crita wyang itu dari indonesia lho..negri kita
    krna di indonesia ..nggk ada yg mlestarikn..jdinya di akuui negara lain lah..dngan versi baru mreka

    • maaf, sependek yang saya tahu, cerita wayang Mahabharata dan Ramayana berasal dari India, masuk ke Indonesia bersama penyebaran agama Hindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s