Tentang Seorang Baby Sitter

Hingar bingar kemajuan teknologi informasi… *halaaaaah, lebay*, kok rasanya malah jadi bikin hidupku jadi tambah ruwet ya ? *curcol ? lebaaaaaaaaaaaay*. Lha iya, pendak-pendak alias sering banget bb jatah kantor ber tat-tit-tut melulu, urusan kerjaan dong ? bukaaaaaaaaan…. lebih banyak urusan social network yang kadang cuma bikin aku mbatin “hadoooooh, yang beginian aja kok di-sounding kemana-mana to yaaaaaaaaa…..”.

Kalau cuma gambar2 lucu dan pesan-pesan cintrong sih aku gak masalah….Fine-fine aja gitu, walaupun nantinya aku cuma menjawab pesan itu ke pengirimnya, dan tidak kusebarkan lagi dengan fitur send to all. Terus terang aku memang tidak pernah menggunakan fitur yang satu itu untuk ikut menyebar luaskan informasi. Bukan apa-apa, males aja… iya kalau beritanya bener, kalau enggak alias hoax ? kan bisa berabe juga to ?

Dan salah satu kelemahan sistem getok tular ( mo dari mulut ke mulut doang, mo dipanjangin via hape or inet ) adalah kemungkinan adanya distorsi dari luar. Mana kek-nya sekarang ini semua orang tiba-tiba pengen jadi vokalis, jadi komentator ahli…plus media untuk ‘eksis’ yang terbuka lebar. Makin uhuy aja deh…. Permasalahan yang tadinya sederhana dan simpel-simpel saja jadi berubah rusuh dan nggak jelas intinya, gara-gara begitu bersemangatnya para vokalis urun rembug, tapi dengan -maaf ni yeeee-, pengetahuan yang kadang belum mencukupi…..

Aku bilang belum mencukupi, karena sebenernya kalau mau lebih sabar sedikit, gali lebih dalam sedikiiiit saja, tengok latar belakang sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit aja…. rasanya ribut-ribut yang gak perlu bakal bisa dihindari, dan energi kita nggak bakalan habis untuk membahas masalah yang bisa diselesaikan tanpa keributan. Masih ingat ribut-ribut soal ‘larangan film impor’ ? whuehehehehe…. seru ya ? Padahal menurutku sih itu pinter-pinternya orang MPA aja memanfaatkan hobi orang indonesia untuk ber-ribut2-ria. Posisikan diri sebagai orang teraniaya, plus ancaman ngambek bin boikot…. dan holaaaaaaa heboh lah orang se indonesia raya, makin jauhlah inti permasalahan sebenernya.

eeewwww…. napa aku jadi ngrasani mpa ya ? balik ah… *banting konde, eh banting stir*

Jadi gini lho, kemarin sore aku menerima pesan via bbm, pesan itu sendiri adalah pesan forward-an, dengan permintaan untuk disebar luaskan lagi. Pesan itu berisi peringatan tentang seorang suster ( baby sitter ) yang sangat tidak layak untuk di-hire, lengkap dengan segala keburukan dan kejahatan si suster itu, plus foto yang bersangkutan. Pertama baca darah langsung mendidih doooong…. secara gitu lhooo, aku juga punya balita di rumah. Pengen ikut bejek-bejek tu suster deh…

Tapi trus aku jadi mikir, adil nggak sih gue kalau ikut maen forward dan send to all tanpa memberi kesempatan si suster itu menjawab ? Mungkin akan lain masalahnya kalau cerita itu aku dapat dari tangan pertama alias langsung dari orang yang menggunakan jasa si suster itu, itupun dengan catatan bahwa orang itu memang pantas untuk kupercayai. So, bolehlah aku ikut woro-woro demi menghentikan kejahatan si suster…

Lha tapi ini kan cuma forward-an, dan ini entah forward turunan keberapa aku juga enggak tahu, forward bin forward bin forward bin forward bin forward…. mbuh wis. Sumber yang pertama kali me-release pesan ini bisa dipercaya atau tidak aku juga enggak tahu… Jadilah kemarin sesorean aku terjebak dalam dilema berkepanjangan…. *haiiiiiissssssh, boso-ne rek*. Di satu sisi aku benciiiiiiiiiiiiiiii banget, gedeeeeeeeeeeeeeeeeeg banget kalau ada abuse terhadap anak-anak. Tapi di sisi lain aku juga mikir bahwa mungkin saja berita itu salah, at least kurang berimbang, dan nasib si suster yang dipertaruhkan. Gimana kalau dia punya tanggungan yang harus dinafkahi ? gimana kalau dia juga punya anak yang harus dibiayai ?

Aku tidak boleh langsung menuduh si majikan berbohong, sama seperti aku juga tidak boleh langsung menuduh si suster yang berbohong….. Employee dan employeer sama-sama manusia kan ? sama-sama bisa salah kan ? bukan begitu sodara-sodara ?

jadi gimana dooooooooooooooomg….???
*ruwet bin mbundet*
*mo mbanting bb takut ketauan komandan*

Iklan

86 thoughts on “Tentang Seorang Baby Sitter

  1. Hhhmmmm….biasanya klo message berantai dari BB itu ga selamanya bener. Kudu cari tau kebenarannya apakah itu HOAX or bukan. Klo aku suka males forward, yah…aku pikir cukup aku aja yg taulah kecuali berita itu dah tentu bener, berita itu kudu disebar, pan utk kebaikan, ciyeee…..

  2. pingkanrizkiarto said: *haduh, kalo yang ini gak berani mbanting deh**takut kuwalat**mlipir aja*

    singsing lengen baju..siap2 mbanting..(lagi puyeng en lemes tapinya gak jadi deh..)

  3. anazkia said: Hmmm.. Apa yah, Mbak?tapi dalam ruang lingkup luas, media kita yang notabene tahu kode etik jurnalis dan lainnya juga seperti itu kan? 😦

    lha tapi mosok mau begitu terus-terusin sih Naz….apa ya ndak capeeeek gitu lho….

  4. pennygata said: apapun yg gak jelas sumbernya aku gak pernah fwd Bu..takutnya nanti malah salah..

    ho-oh…cuma geregetan ama kontennya aja jeng, lha piye, mosok jare momongane dijedot-jedotin ke tembok je….

  5. tokoibufarhansarah said: saya jarang ato bisa dibilang gak pernah forward mem-forward sebab saya gak ngerti sumber aslinya darimana, kecuali sumber asli yg saya kenal langsung. Bu BB-nya jangan dibuang add my pin dong :))

    pm pin-nya dong uniiii….:))

  6. sepasangmatabola said: Aku sih nggak doyan ikutan surel berantai, mbak Ping. Buang-buang waktu dan tenaga aja sih, males. πŸ™‚

    yang terasa mengganggu tu kontennya jeng, coba kontennya biasa-biasa aja, ndak bakalan ta’ gubris…. masalahnya ini ada hubungannya ma anak kecil yang diabuse… ngebayangin ( kalau ) berita itu bener dan si pelaku masih bebas kliaran dengan kelakuan jahatnya bikin aku geregetan juga…:)

  7. kalo saya sih ga pernah mau ikutan broadcast pesan2 yang ga jelas mbak…buat saya hal seperti itu kalau diikuti ga ada habisnya..karena lebih banyak hoaxnya daripada benernya….jd kalau dapat biasanya saya hanya baca sekilas terus saya tutup. Lebih sering lagi ga saya baca..hehe

  8. buat referensi sih boleh, tapi kadang pengalamanku sih, suster A gak cocok ma nyonya B, tapi tahunya cocok ma nyonya C. kadang chemistry juga bicara sih dalam hubungan antara suster dan nyonyanya…………*halah kok kayak pilih jodoh aja pake chemistry*

  9. arumbarmadisatrio said: buat referensi sih boleh, tapi kadang pengalamanku sih, suster A gak cocok ma nyonya B, tapi tahunya cocok ma nyonya C. kadang chemistry juga bicara sih dalam hubungan antara suster dan nyonyanya…………*halah kok kayak pilih jodoh aja pake chemistry*

    *berasa kayak di lab kimia*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s