[fiksi] Adik kecil

Siang hari di lampu merah, matahari panas memanggang ubun-ubun. Udin berkali menoleh, mengamati dan menjaga, sosok mungil dalam buntalan. Adik kecil dalam dekap perempuan tengah baya berbaju compang-camping. Perempuan yang mengenggam kaleng untuk diacungkan, berharap banyak mata menengok bayi lemah dalam dekapan, lalu melempar kepingan –atau lebih baik lagi- lembaran uang.

Apalah yang bisa Udin lakukan, koran majalah masih berat dalam dekapan. Udin kurus hitam dekil, tenggelam dalam lembaran berita yang mengisahkan sejuta kemewahan. Tak bulat niatnya menjajakan dagangan, rusuh hati menatap adik kecil pasrah berselimut panas memanggang. Perempuan itu bukan bunda, tapi bayi kecil adalah adiknya, adik kecil dengan tawa pemantik lentara suka cita.

Ah adik kecil… Udin menemukan cinta di matanya, lembut di ujung jari mungilnya, nyanyi bahagia dalam tawanya. Adik kecil di awal kehidupan, membawa kembali sepotong surga yang hilang tersambar debu jalanan, juga sejumput asa yang terenggut kerasnya hari di lampu merah perempatan.

Adik kecil… adik kecil… akan kubangun masa depan, janji Udin memulai impian. Sekolah… deretan kelas untukmu, bukan jajaran lampu mercuri jalanan. Belajar… agar kau pintar dan gagah meraih kehidupan. Ah, bunga warna-warni menghiasi harapan. Adik kecil harus sekolah, adik kecil akan meraih gemilang masa depan. Akan kujemput setiap rezki yang dijanjikan Tuhan, meski pagi siang sore hingga malam habis di perempatan, Udin mengukir tekad dilangit malam.

Kembali Udin menatap adik kecil dalam dekap perempuan setengan baya dengan kaleng di tangan. Ah, tak seharusnya Mamak meminjamkan adik kecil, membiarkannya berkawan debu jalanan. Tidak, kita semua harus bisa cari makan, getas jawab Mamak surutkan nyali. Daripada molor melulu ngabis-ngabisin makan, biar dia dibawa ngemis. Lalu Mamak menguap panjang. Tak ada lagi yang bisa dikatakan, dengkur Mamak menutup percakapan

Tapi Udin masih terpaku, Mamak… Dini hari baru pulang, lunglai dengan sisa perjuangan semalam. Hanya berbekal badan, tinggalkan hati, jangan bawa-bawa nurani. Mamak, Udin masih memyimpan mimpi untuk Mamak. Mamak yang cantik dengan kerudung dan baju panjang seperti kakak-kakak di sekolah darurat. Tapi Mamak punya sejuta beban, empat mulut menanti diberi makan, Nenek, Udin, adik kecil dan Mamak sendiri. Ah tidak, Udin sudah menjadi laki-laki, laki-laki yang siap berbagi beban Mamak, janji Udin dalam hati. Udin telah mampu berlari, mengejar setiap rezki yang dijanjikan langit.

Adik kecil… perih hati Udin terbawa sosok mungil terbungkus kain dekil, dalam dekapan perempuan paruh baya berbekal kaleng ditangan. Adik kecil yang lahir disambut umpatan dan makian, umpatan mamak pada deretan laki-laki yang datang dan pergi, berganti-ganti tiap malam. Mamak keras berteriak, mengumpat dan memaki. Tapi Udin menemukan tunas mimpi, barang mahal dengan tebusan setinggi langit di kehidupan pinggir rel kereta.

Saat tangan kurus adik kecil menyentuh ujung jari, Udin pun mulai membangun mimpi. Adik kecil berlari riang gemuk menggemaskan, adik kecil berbaju putih merah berlari riang menuju gerbang sekolah, adik kecil terus berlari menjemput indah kehidupan…. Ah,impian indah Udin, janji Udin… dan himpitan hidup yang kian tak ramah. Tapi janji Udin sepenuh hati, pagi siang sore hingga malam hari untuk adik dan impian gemilang masa depan.

Kali duitnya bisa beli susu. Enteng Mamak melepas adik kecil turun ke jalan. Tidak dalam dekapan mamak yang berkubang darah melahirkan, tapi sebagai barang sewaan untuk memanggil iba para dermawan. Mamak ? lirih ucap Udin mempertanyakan. Tapi tertahan ucap di tenggorokan, bening air di ujung mata Mamak menahan Udin melepas keberatan. Ah Mamak, tak mungkin Mamak mendekap adik di perempatan, telah habis terkuras tenaga setiap malam. Udin diam termangu, dan adik pun berpindah tangan.

Udin kembali mengulurkan koran, menjajakan tak sepenuh hati. Adik demam menangis sepanjang malam. Nenek tak bisa berbuat apa-apa, hanya mengoleskan minyak angin dan menjejalkan sejumput penurun panas dari warung di ujung gang. Dan Mamak, pagi buta mamak jatuh teridur di depan pintu, sengak minuman keras tersisa di seluruh badan. Saat perempuan paruh baya datang, ingin Udin menahan adik tetap bersama Nenek .

Tapi perempuan itu galak mengeluarkan sumpah serapah, merasa telah mengeluarkan uang untuk seminggu penuh membawa adik ke perempatan. Menjejalkan lebih banyak lagi obat kemulut adik yang masih juga deman. Begini malah lebih baik, obat bikin tidur, nggak rewel, si perempuan menggumam sambil bergegas membawa adik dalam dekapan. Jaga adikmu din… lirih Nenek menggugah Udin dari kebekuan.

Panas memanggang di perempatan, hati Udin kian rusuh terbawa kemarahan. Berapa kali terdengar adik menangis pelan, terdera demam di sekujur badan. Hanya tangis pelan, tidak mampu melawan demam dan deru kendaraan. Tapi telinga Udin menangkap setiap rengekan, hati Udin merasakan setiap isak kesakitan. Perempuan paruh baya tak peduli, hanya recehan dan untung-untung lembar ribuan yang jatuh ke kaleng yang jadi urusan.

Panas memanggang di perempatan. Rusuh hati Udin terhanyut amarah. Marah pada mamak yang melepas adik kejalanan, marah pada Nenek yang hanya bisa menangis, marah pada perempuan paruh baya yang hanya memikirkan uang di kaleng rombengan, marah pada lalu lalang kendaraan yang angkuh dan tak ambil peduli…

Panas memanggang di perempatan. Adik kecil terbangun karena nyeri seluruh badan, obat tidur tidak lagi mampu meredam tangis kesakitan. Perempuan paruh baya mengumpat marah merasa kerepotan. Udin mendekat meminta sedikit pengertian, biarlah adik kugendong sebentar, barangkali berhenti tangisnya biar cuma sebentar. Tapi perempuan paruh baya tidak peduli, semakin marah karena satu nyala lampu merah terlewatkan, hilang satu kesempatan mengisi kaleng dengan uang. Lalu enteng tangan perempuan itu mencubit paha kurus adik, tanpa ampun, lagi dan lagi.

Tangis adik kian menjadi, merasakan sengat cubitan berkali-kali. Adik kecil, adik kecil… Amarah Udin menyerbu ubun-ubun, tumpukan koran dan majalah terlempar berhamburan. Tangan kecil dekilnya merebut, adik kecil berpindah dekapan , tak peduli sumpah serapah perempuan paruh baya yang terkaget-kaget… tapi Udin sudah berlari.

Lari, lari, lari dan lari, mendesak memenuhi kepala, memotong semua kesadaran…. Berlari Udin membawa adik kecil dalam dekapan , tak lagi peduli lampu masih hijau menyala. Decit rem, jeritan dan debam suara besi yang menghantam, tubuh kecil hitam dekil dan adik tersayang dalam dekapan….

Panas memanggang di perempatan… Udin dan adik kecil menjemput kesejukan. Meninggalkan nenek yang tiba-tiba merasakan kekosongan, meninggalkan Mamak yang terperanjat bangun dalam kepedihan…

untuk matahariku. jangan biarkan dunia menutup mata hatimu….

nb : ini sudah pernah aku posting di lapak sebelah

48 thoughts on “[fiksi] Adik kecil

  1. thetrueideas said: Jadi mbak Ping, bukan mbak kembangnanas ya? Saya baca ada tulisan yg mirip tulisane mbak Ping, di kampung sebelah.

    wah jadi penasaran saya…. bukan mas, saya bukan kembangkol, eh, kembangnanas…saya udah pernah posting ini sebelumnya di blog saya yang lain, tapi bukan kembangnanas, nggak tau gimana ceritanya kok bisa mirip….jadi penasaran sungguh nih….bisa minta link-nya mas ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s