Faiz Bersiasat



Gambar diatas adalah tumpukan buku yang wajib dibaca -dibacakan untuk lebih tepatnya- oleh ibunda sebagai pengantar tidur mas Faiz Pradipta. Huaduuuh…. kalau lagi pas nafas masih utuh sih ya fine-fine aja sih, dibaca dengan baik dan benar lengkap dengan penghayatan dan sedikit bumbu improvisasi. Tapi kalau pas lagi lungkrah plus malesnya kumat, ya ibu bacanya singkat padat dan cepat. Lebih parah lagi kalau pas lagi cuapeeeeeek-pek…. duh, kalo bisa di-skip aja deh acara dongeng mendongeng ini, atau paling enggak tidak semua musti dibacain, jadi aku bilangnya “Jangan banyak-banyak ya, Ibu lagi capek....” .

Protes dong story teller-nya, lho wong kalo mood lagi jeblok, hasilnya juga jeblok to ? mBaca dongeng kok kayak komandan upacara unjuk laporan ke inspektur upacara. Tapi apakah protes diterima ? diterima sih diterima, tapi trus ya bablas aja…. tumpukan buku tetep aja digabruk-kan ( basa indonesa-nya apa ya ? ) diatas kasur. Tapi sepertinya si ndoro kakung itu merasa juga, kalau dongeng ala laporan komandan upacara itu tidak nyaman untuk konsumsi telinga, apalagi sebagai pengantar tidur nyenyak di malam hari.

Jadilah, kemarin malem beliau ini melancarkan siasat baru. “Buk, sudah malem, bobok !”, ok deeeh, siaaaap !! Duduk manis di kasur dengan hanya memegang satu buku. Eh lha kok tumben, biasanya sudah genteyongan mengevakuasi buku cerita ke kasur. Tapi sip-lah… kalau cuma satu sih cepiiiil. Maka kisah “The Alligator’s Secret” meluncur dengan sukses dan indahnya…..

Aman ? oh tidaaaaak… setelah satu buku selesai, buru-buru bocah ini turun lagi dari kasur, lalu mengambil satu buku lain dari kolong ranjang. Ampun…. belum tamat rupanya. Ok deh, lanjut dengan “Mencari Tujuh Saudara” ditamatkan. Selesai ? oh tidaaaaaaak…. Turun lagi, ke kolong lagi, naik lagi ke kasur dengan ” Menyibak Rahasia Hutan” di tangan. Wealaaaaaah.… ternyata harta karun pengantar tidurnya ditumpuk di kolong ranjang sodara-sodara. Tertumpuk manis menunggu giliran untuk dibacakan. Halaaaah… kalau begini kan jas buka iket blangkon namanya, alias sama juga sami mawon. “Ya udah, Faiz bawa aja semua keatas bukunya” begitu kata ibunda.

Tapi dengan tatap mata dan nada suara sok bijak, gusti prabu Faiz menasehati ibundanya, “Jangan banyak-banyak, nanti capek”, Jyaaaaaaaaaaahhh… apa bedanya to naaaaaaaak…

Iklan

28 thoughts on “Faiz Bersiasat

  1. wah..membacakan dongeng bagi si kecil akan melatih intelenjensinya,jeung. Sewaktu saya masih kanak2, orang tua saya sering mendongengkan buat saya dan itu mampu meningkatkan prestasi saya. *GR yak hehe…

  2. baguuss..lanjutkan faiz…’hajar’ terus tukang dongengnya..wkwkwwkkkk….mbacain dongeng emang bikin lambe ndower..njenengan ampuh mbak, masih bertahan..kalo aku dah nyerah lama…ni si sulung ta pokili biar tergoda baca sendiri, alhamdulilah, pas usia 4 tahun dah lancar baca..so emaknya merdeka ga bacain dongeng lagi..kalo dedeknya, sementara cukup diajak gojek n ngobrol..xixixii…*dasaremaknyayangmales*

  3. Podo, mbak. Pas anak2 belajar baca kan minat dibacakan buku. Lah, tiap malam mereka suka dibacakan buku yg itu lagi, itu lagi. Saya bilang lah, bosen kan. Eh, dipaksa terus. Yo wes tak bacakan sampai ledeh iki lidah. Terusnya pas mereka bosen, minta dibacakan buku yg panjang pake ada babnya segala. Haduh… maksa lagi mesti lebih dari 1 baba, hahaha. Ampun deh, demi mereka bisa membaca. Alhamdulillah, skrg semua lancar membaca, yg dirongrong kantong. Tiap ke toko buku mesti minat belikan minimum 1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s