ibu bekerja di luar rumah

Di sebuah media beberapa waktu yang lalu, seorang tokoh masyarakat menyatakan bahwa dalam pandangannya seorang wanita yang bekerja diluar rumah berarti telah kehilangan kehormatannya. Tuinkkk…. langsung naik deh tekanan darahku… tapi ya sudahlah, istighfar saja. Mungkin yang dimaksud beliau tidak ‘separah’ bayangan yang ada dalam otakku ( but wanita yang kehilangan kehormatannya ? what a …….. ).

Lalu dengan senyum kecut aku mikir,
untuk makan anak2ku, tidak mungkin aku minta ke dia,
untuk baju-sendal-sepatu anak2ku, tidak mungkin minta ke dia,
untuk bayar sekolah bagus dan bermutu alias mahal ( hare gene gitu ), tidak mungkin minta ke dia,
untuk hak bermain dan hiburan anak2ku, tidak mungkin aku minta ke dia
untuk tabungan kuliah anak2ku, tidak mungkin aku minta ke dia
untuk tas model terbaruku…. kyaaaa…. gak mungkin banget lah aku minta ke dia ( xixixix…)
Well, itu semua ( tapi tas model terbaru coret aja ya ! ) yang harus kami, aku dan suamiku usahakan sampai titik darah penghabisan ! maju terus pantang mundur, merdeka !! *kumatlebaynyadeeeeeh*

Aku mengerti, bahwa mungkin maksud beliau adalah wanita dalam Islam telah diberi kehormatan untuk lepas dari kewajiban mencari nafkah bagi keluarga. Ini bukan mau ngajarin lho , wong aku sendiri gak pinter dalam agama kok, tapi menurutku tetap bekerja untuk membantu kelangsungan keluarga adalah sebuah pilihan yang tidak akan menghilangkan inti dari penghormatan itu. Kalau seorang suami sendirian saja bekerja sudah dapat mencukupi semua kebutuhan keluarga, ya baguslah, Alhamdulillah. Tapi dalam posisiku saat ini, rasanya mengandalkan suami saja rasanya nggak tega juga. Menghitung biaya kuliah satu anak saja sudah membuat kami lumayan cekot-cekot … hehehehe….

Aku sendiri dibesarkan dengan doktrin perempuan harus punya kekuatan ekonomi…. Itu ajaran dari bapakku sendiri yang cerita hidupnya terlunta-lunta bak kisah sinetron karena ibunya alias nenekku yang ditinggal kawin lagi dalam keadaan sudah punya anak 7. Sementara ibuku sendiri sudah terbiasa bekerja keras dari kecil dari mburuh batik sampai menemani mbah putri-ku jualan kelapa di pasar. Belum lagi kisah bude-ku ( kakak ibuku ) yang tiba-tiba harus menjadi single parent dengan 6 orang anak.

Pernikahan menyatukan mereka dalam satu tekad untuk jangan sampai anak-anak mereka mengalami urip susah seperti mereka. Mereka berdua sama-sama bekerja untuk memastikan hal tersebut. Sama-sama bekerja diluar rumah untuk menafkahi fisik kami, sama-sama bekerja juga didalam rumah untuk membentuk jiwa kami dengan kasih sayang sepenuhnya.

Dan disinilah aku sekarang, seorang ibu yang bekerja di luar rumah… ( jreeeeng…. pake sound effect dong biar dramatisss…. )
Bekerja di rumah atau bekerja di luar rumah bagiku adalah sebuah pilihan, pilihan yang didasari pertimbangan masing-masing orang yang tidak bisa disamakan satu sama lain. Dan bagiku yang penting adalah kesadaran dan tanggung jawab atas pilihan yang sudah dibuat.

Dalam kenyataannya ada ibu kantoran yang mengejar karirnya sampai ‘melupakan’ urusan domestiknya. Tapi ada juga tetanggaku yang ibu rumah tangga, tapi lebih sibuk ngerumpi daripada mengurus anak-anaknya, bahkan pernah meninggalkan dua anaknya terkunci di rumah untuk mengejar sale di sebuah departmen store ( alesannya belanja buat anak siiiiih… lha tapi 2 anak terkunci tanpa pendamping dirumah ? *sigh*….) .

Jadi bagiku yang penting adalah bagaimana menyikapi pilihan kita, bekerja di rumah dengan resiko tanpa jenjang karier, minimnya penghargaan dari masyarakat dan jam kerja yang tidak ada habisnya…atau ikut bekerja diluar untuk kelangsungan keluarga, dengan resiko pikiran terbelah, beban rasa bersalah, pulang kerja masih harus nggendong anak kemana-mana, enak tho ? manteb tho ?.…. ( dibilang hilang kehormatan lagi, xixixixixi…… peace ah ! )

Waduh, kok nggak ada enak-enaknya ya ? hehehehe…. enggak kok sodara-sodara, Insya Allah setiap pilihan yang kita ambil berdasarkan kesadaran akan tanggung jawab kita pada keluarga akan berbuah manis, apapun pilihan itu, ibu rumah tangga atau ibu kantoran ( ya ibu kantoran dong….lha kalo aku bilang ibu bekerja, emangnya ibu yang dirumah ndak kerja apa ? ).

Tetap bangga dan terhormat menjadi ibu, didalam maupun diluar rumah … yuuuuuuuk !!!

83 thoughts on “ibu bekerja di luar rumah

  1. hoaaaaaa, setuju sekali dengan Mbak Pinkan!!!!hidup ini pilihan, dan berusaha menjadi istri, ibu, sekaligus wanita bekerja yang berkualitas dunia dan akhirat adalah pilihan yang jitu!!!

  2. benar sekali, hidup adalah pilihan, jadi pilih yang paling benar dan sesuai, memang kalau bisa sih dirumah tp kalau terpaksa harus meninggalkan rumah ya kalau suami mengijinkan ya silahkan go head tp dg catatan jangan lupakan kodrat sebagai ibu bagi anak2 dan istri bg suami

  3. setuju bu ping….enak ajah ngomongnya, apa blm pernah ditabok pake bakiak bliaunya….*sewot, mondar mandir nenteng bakiak*bekerja diluar rumah pasti krn ada alasannya, yg jelas biasanya alesan ekonomi….kalo ajah dapet suami kek goo joon pyo pastilah aku bisa duduk manis ngurusin rumah….*mulai ngayal d…*lagian kata temenku yg aktip di LPPAR, salah satu alasan yg bikin perempuan terpaksa bertahan dlm kdrt krn perempuan tdk punya bargaining power *salah ga nulisnya* terutama di bidang ekonomi….

  4. perempuan yang sehabis bekerja tetap selalu berusaha ngurusin keperluan anak dan suami (walau sering keteteran, wajarlah bukan wonder women gituh….)buatku adalah perempuan yg hebat…hebat…hebat…

  5. wah setuju bu pingkan, mang kita ngapain di luar rumah, jual kehormatan, wong kita bantu suami, lagipula kita gak akan kerja di luar rumah kalau gak ada izin dari suami, betuuul?

  6. Saya lihat ada ibu2 yang memang tidak bekerja alias tinggal di rumah karena suaminya kaya raya, siapa yang ngasuh anaknya? baby sitter, siapa yang ngurus rumahnya? pembantu! kegiatannya setiap hari hanya nonton sinetron dan shopping… saya rasa bukan itu hakekat seorang perempuan… mbak, menurut saya, menjadi seorang ibu bukan terarti tidak boleh bekerja di luar rumah, asal tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri tidak ditinggalkan…

  7. laxita said: hoaaaaaa, setuju sekali dengan Mbak Pinkan!!!!hidup ini pilihan, dan berusaha menjadi istri, ibu, sekaligus wanita bekerja yang berkualitas dunia dan akhirat adalah pilihan yang jitu!!!

    terima kasiiiih….heheheh… banyak banget tanda serunya ! xixixixianyway, jadi ibu rumah tangga atau ibu kantoran sama-sama pilihan jitu lho jeng, yang penting ya itu, kesadaran dan tanggung jawab atas pilihan masing-masing…. karena bagaimanapun juga kondisi dan latar belakang masing2 orang berbeda… tapi pokok’e HIDUP IBUUUUU !!!!! ^_^

  8. thetrueideas said: ndak usah dihitung2, tiap anak sudah dijamin rejekinya oleh Allah ta’ala…

    betul mas…. tiap anak sudah membawa jatah rejeki masing-masing. Saya dan suami hanya mengusahakan, Allah yang akan melihat usaha kami dan menentukan hasilnya…

  9. depingacygacy said: lagian kata temenku yg aktip di LPPAR, salah satu alasan yg bikin perempuan terpaksa bertahan dlm kdrt krn perempuan tdk punya bargaining power *salah ga nulisnya* terutama di bidang ekonomi….

    wah ini juga yang suka diomongin eyang shopi from rifka annisa…btw, khayalannya boleh juga tuh…. xixixixi….. ( goo joon pyooo…. biyuuuh, angel temen jenenge…. )

  10. evimoz said: yang penting bagaimana menempatkan pilihan itu supaya seimbang dengan apa yang menjadi kewajiban wanita.

    setuju jeng… walaupun kadang cuapeeeek, capek fisik dan capek hati juga…. heheheh, bagaimanapun juga ninggalin anak di rumah bisa bikin kita patah hati …:(tapi, tetap semangaaaat !!

  11. thetrueideas said: kalo hujan uang dari langit, banyak atap rumah yang bocor, terutama kalo gopekan atau cepekan ^_^

    saya pilih gak pasang atap aja deh mas…. pasang jaring aja di atas rumah…. tinggal nunggu hujan duit….๐Ÿ˜€

  12. haleygiri said: mbak, yen ono santunan yg berlimpah tiap bulannya untukku, aku yo pilih tinggal di rumah ae, mengerjakan segala hobi, rasah kerjo… wkwkwkwkkwkw

    akeh tunggale jeeeeng….. xixixixi…..

  13. itu tokoh masyarakat mikirnya semua orang banyak duitnya kali yah. jadi semua istri2 duduk diam manis dirumah saja nungguin suami pulang ngasih duit. trus kalo suami nya *amit amit* di phk gimana?atau usahanya *amit amit lagi* bangkrut?atau lain2 kejadian yang amit2 malas gue sebutin satu2 gimana dong. untunglah itu cuma pandangan dia seorang *yang jelas2 salah dalam pandangan gue* -pandang pandangan dong kami- .kadang jika memang diajarkan dalam keyakinan kita, entah ditulis dalam kitab suci atau tidak, semua hal mesti di pikir dan dicerna baik2 dulu sebelum ditelan mentah2. sayangnya dia adalah tokoh masyarakat, yang seharusnya punya kekuatan mempengaruhi orang, tapi kok ndak mikir kalo suatu saat dia nya ga bisa berpenghasilan, trus anak istrinya mo makan apa? wong pasti selama ini istrinya disuruh mengeram dirumah :p*asal jangan sampe nanti istrinya malah kehilangan kehormatan dalam arti sesungguhnya demi dapat uang yang gampang dan ga capek*hihihi, jahat yah gue.

  14. depingacygacy said: nek konangan mesti kon nukokno es duren maneh bu….๐Ÿ˜ฆ

    halah upetinya kok mung es duren…. keciiiilll kuwi, sing penting kan urusan nonton brondong korea jalan terus to ? xexexexe….

  15. lancar bu, mung dvdne sing sok ngadat…*lg ancang2 meh tuku sing mendingan bu :-D*bu, si bpk jg ikut nonton lho bu, jare apek. malah wingi dl ost ne njaluk dicopike mbarang i hehehehe….

  16. depingacygacy said: bu, si bpk jg ikut nonton lho bu, jare apek. malah wingi dl ost ne njaluk dicopike mbarang i hehehehe…

    whualaaaaa…… nular kiii…. yo wis lah, ben makin kompak aja dah !!๐Ÿ˜€

  17. maaf bu, baru tau kalo aku baru memanggilnya demikian.jika hidup itu adalah pilihan, dan pilihan itu kita sendiri yang memutuskan. aku fikir, selama suami tidak keberatan dan melarang,tidak akan merubah sesuatnya menjadi buruk. justru sebaliknya_niat mulia dari sang istri membantu ekonomi rumah tangga itu juga lebih terhormat. biarkan media menulis dan berkata seenaknya. keputusan ada pada kita.

  18. pingkanrizkiarto said: seorang tokoh masyarakat menyatakan bahwa dalam pandangannya seorang wanita yang bekerja diluar rumah berarti telah kehilangan kehormatannya.

    Letak masalahnya seharusnya bukan bekerja diluar rumah-nya..namun bagaimana menjaga peran dan tugasnya seorang wanita baik sebagai istri dari suaminya atau ibu dari anak – anaknya tidak terbengkalai meski harus bekerja di luar. Saya justru salut dan merasa hormat dengan wanita yang mampu menjaga dan menjalankan kedua fungsi tersebut secara seimbang.

  19. kangdul said: bagaimana menjaga peran dan tugasnya seorang wanita baik sebagai istri dari suaminya atau ibu dari anak – anaknya tidak terbengkalai meski harus bekerja di luar.

    inggih mas…. setuju sanget mas…matur sembah nuwun ….. ^_^

  20. pingkanrizkiarto said: mariiiiiiiii…… ^_^

    Soalnya aku mau reply panjang lebar juga bingung, hehehe.Yang jelas, baik mama maupun ibu mertua semuanya kerja (walaupun satunya kantoran yang berarti 7 to 5 dan sabtu minggu libur, satunya dagang 7 to 12 tapi tiap hari termasuk tanggal merah.). Keduanya dengan kondisi tinggal sama ortu (nenek) sih, jadi walaupun ada ART tapi tetap dengan sentuhan keluarga.Eyang kakung dari papa meninggal saat kelima putra/i-nya masih kecil, uti membesarkan semuanya dengan pekerjaan guru SMP negeri dan memang akhirnya harus ada ART. Kemudian papa harus pensiun dini nyaris bertepatan sama krismon 1997, alhamdulillah kerjaan mama bisa diandalkan. Tapi itu juga nggak ngoyo kok, mama menolak waktu mau dikasih promosi yang cukup tinggi karena nggak mau waktunya tersita untuk karir.

  21. niwanda said: Eyang kakung dari papa meninggal saat kelima putra/i-nya masih kecil, uti membesarkan semuanya dengan pekerjaan guru SMP negeri dan memang akhirnya harus ada ART. Kemudian papa harus pensiun dini nyaris bertepatan sama krismon 1997, alhamdulillah kerjaan mama bisa diandalkan. Tapi itu juga nggak ngoyo kok, mama menolak waktu mau dikasih promosi yang cukup tinggi karena nggak mau waktunya tersita untuk karir.

    kisah-kisah seperti ini Leil ( yang juga ada dilingkungan keluarga besarku ), yang membuatku merasa sangat ‘tersengat’ dengan istilah kehilangan kehormatan seperti yang aku tulis diatas…. *sigh*semoga kita bisa mengambil ibroh dari wanita-wanita hebat disekeliling kita ya Leil….

  22. mbak pingkan………..kalo nggak kerja trus anak2ku gimana???? bapaknya sekolah dan nggak berpenghasilan…..masak dikirimin mertua terus????? tapi aku kehilangan kehormatannya ma bojoku kok….bukan karena kerja di luar rumah…he…he…he…aduuuuuh sapa yang komentar gitu???? mau tak sambit apa????aduuuh sapa sih komentar gitu???

  23. bener kok bu’hidup itu pilihan..tetap bekerja denga sgl resikonya…berhenti bekerja (seperti aku) dengan segala resikonyajadi ibu rumah tangga thok dengan omongan orang “opo tho kesele dirumah,lah wong cuman bersih2,nyuci,nyapu,turu” (emange aku pembokat)kadang emosi kalo pas lagi cerita kecapekan diri (lhohh curhat nihhhtapi apaun itu insyaallah Allah memberi yang terbaik kok..kita kan niatnya baik,bismillah..mengharap ridho Allah!ayooo tetap semnagat ibu2..apapun itu dirimu!

  24. babykhal said: api apaun itu insyaallah Allah memberi yang terbaik kok..kita kan niatnya baik,bismillah..mengharap ridho Allah!ayooo tetap semnagat ibu2..apapun itu dirimu!

    betul jeng….. semangaaaaat !!

  25. Wah.. kok yo masih ada yang ribut ngurusi ibu bekerja seh?? (jadi sedih karena sekarang aku melakoni lagi “profesi lama” sebagai Ibu bekerja). Selama seorang Ibu melakukannya untuk keluarga dan nggak mementingkan diri sendiri, Ibu bekerja maupun Ibu Rumahtangga adalah sama derajatnya. Hidup para Ibu!!!

  26. selesai bacanya….. udah baca la tahzan for Working Mothernya Asma Nadia belum…. mantabzzz tuh buat para working mom…*dibaca bolak balik, terutama kalo pas lagi ngerasa sedih karena ninggal anak2 tugas luar…*Ayo Mbak, tetap semangat, mencari pahala diluar dan didalam rumah…!!!!

  27. lollytadiah said: selesai bacanya….. udah baca la tahzan for Working Mothernya Asma Nadia belum…. mantabzzz tuh buat para working mom…*dibaca bolak balik, terutama kalo pas lagi ngerasa sedih karena ninggal anak2 tugas luar…*Ayo Mbak, tetap semangat, mencari pahala diluar dan didalam rumah…!!!!

    iya mbak Lolly….aku juga pengin beli. kemaren baca reviewnya dimana gitu lho…*lupa wis tuwek*

  28. pingkanrizkiarto said: Di sebuah media beberapa waktu yang lalu, seorang tokoh masyarakat menyatakan bahwa dalam pandangannya seorang wanita yang bekerja diluar rumah berarti telah kehilangan kehormatannya. Tuinkkk….

    …pendapat yg aku quote diatas adalah pendpt yang aneh….btw salam kenal…:)

  29. Punten Mba, jadi tergerak utk komen, stlh baca lin di Mba Arum:Menurut hematku, gak usahlah kita buat pelabelan2 sosial. Justru ini kemudian yg menjebak dan mengkotak2an perempuan. Ada istilah pr. karir, ibu RT, Mom work at home dstnya dstnya. Saya memilih menghindari pengotakan2 sosial begini.Buat saya, perempuan itu ya kudu membahagiakan dirinya sendiri, membahagiakan keluarganya dan ‘berguna’ bagi masyarakat sekitarnya.Bagaimana caranya?Itu sepenuhnya hak si perempuan menentukan cara dia menjalankan fungsi dirinya. Intinya, perempuan dewasa berhak memilih jalan hidupnya dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Itu saja๐Ÿ™‚

  30. imazahra said: Intinya, perempuan dewasa berhak memilih jalan hidupnya dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Itu saja๐Ÿ™‚

    Itu juga yang ingin saya sampaikan jeng. Masalah pelabelan,pada intinya aku setuju dengan penghindaran pengkotak-kotakan seperti yang jeng sebut diatas, tapi konstruksi sosial suka tidak suka masih menyediakan label tersebut… kedengaran seperti upaya membela diri sendiri ya ? hehehehe…. tapi jujur saja, pelabelan dan lalu munculnya kalimat ‘kehilangan kehormatan’ seperti yang aku sebut dipostingan diatas itu sudah menyulut amarahku dan sempat membuatku tidak enak tidur berhari-hari… so, menarilah daku di gendang pelabelan perempuan….๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s