Takdir ?

Satu saat, dalam forum gossip seru ibu-ibu, diceritakanlah tentang seorang artis yang sudah lama koma dan baru saja meninggal. Karena merasa nggak gitu nggeh urusan per-artisan, tanya dong diriku, “Lho, meninggalnya karena apa ?”. Eh ada yang langsung nyamber dengan semangatnya, “Ya karena takdir-lah”. Dilanjutkan dengan bla-bla-bla yang -perasaan siiih- menceramahi diriku tentang takdir, ketentuan umur ditangan Allah, bla-bla-bla…. Aku sih ya-ya-ya aja deh, daripada brisik….

And then, kompas.com hari ini, baca statement pengacaranya si Ryan jagal dari Jombang : takdir kali ya, korbannya meninggal semua….. Wueladalah, ampoooon dah !!… Tapi aku langsung inget materi gossip diatas. Kalau ada orang yang meninggal tanpa ada ‘sentuhan’ kejahatan, kata takdir akan terasa lebih nyambung . Tapi dalam urusan pembunuhan ? kenapa jadi lain ? hayoooooo ?!

Well… kalo masalah apa dan bagaiman takdir itu, aku sendiri masih jauh dari posisi ngerti apalagi fahaaaaaam. Tapi menghadapi dua kisah diatas, aku merasa perlu mencari sedikit ‘pencerahan’, dan kubacalah bukunya Agus Mustofa yang Mengubah Takdir, dan aku nemuin paragraf ini ( konteksnya bunuh diri sih ) :

Bahkan Allah juga melarang seseorang untuk bunuh diri ( ntar kata bunuh diri kuganti dengan kata membunuh, masih relevan ). Ini menunjukkan bahwa kematian bisa ‘diusahakan’ oleh seseorang. Sebagaimana pula kesehatan bisa diusahakan.

Dengan kata lain, kalau Allah sudah menentukan kematian seseorang secara wajar, mestinya bagaimanapun seseorang melakukan usaha membunuh, korbannya tidak akan bisa terbunuh. Tapi karena korban bisa terbunuh, maka Allah pun melarang pembunuhan.

So… kalo ada orang memukul kepala orang lain dengan sekop berulang-ulang sampai mati, bukankah dia sudah melanggar larangan Allah ?! sudah membunuh ?! Jadi jangan ngomong soal kematian adalah tanggung jawab takdir….

Terlepas dari kerjaan pengacara adalah berusaha membebaskan klien dari segala dakwaan, dengan segala cara dan upaya, dan juga pengadilan bukanlah urusan hati nurani, tapi menimpakan kesalahan pada takdir ? hehehe… kayak orang kehabisan akal ajal….

31 thoughts on “Takdir ?

  1. pingkanrizkiarto said: seratooooos buat Salim…tulisan ini sekedar untuk mengomentari omongan ngaconya pengacara si Ryan aja kok… 🙂

    Hihi… maaf Bun, diriku gak ngerti konteksnya. Barusan baca beritanya. Ternyata ketinggalan gosip sayah… 😀

  2. Walo bagaimanapun menghilangkan nyawa org laen, ya berdosa…nah seharusnya wartawan yg nulis perkataannya si pengacara, kasih komen balik dong… ” klo gitu mmg takdirnya Ryan ya jadi pembunuh??? dan takdirnya Ryan ya dihukum mati ??@#$^^&* mo jawab apa dia…?? enak aja memlintir arti takdir.

  3. bulik, yang kutahu, ada ayat di Alkitab, mati itu takdir. Kata mati menunjukkan “keadaan tak hidup”, tapi tidak menunjukkan “proses menuju keadaan tak hidup itu”.Ya yen nurutku, salah lah klu ada yg mengatakan takdir seseorang harus mati di tangan penjahat perampok mobil nylonong truk lewat kereta api atawa tangan sendiri…

  4. pingkanrizkiarto said: Kalau ada orang yang meninggal tanpa ada ‘sentuhan’ kejahatan, kata takdir akan terasa lebih nyambung . Tapi dalam urusan pembunuhan ? kenapa jadi lain ? hayoooooo ?!

    Tapi kan di Al Qur’an juga disebut segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia sudah tertulis dalam suatu catatan? Perkara takdir atau nggak sih wallahu alam ya, tapi kadang aku penasaran, kalau segala sesuatu itu terjadi dengan pengetahuan Allah SWT, kenapa Beliau diam saja ketika kejahatan terjadi, penyakit mewabah dan malapetaka melanda?Maaf nih mbak Ping, sekedar penasaran aja, bukannya buruk prasangka. 🙂

  5. pingkanrizkiarto said: takdir kali ya, korbannya meninggal semua

    sudah gak tau harus berdalih apalagi kali. Ini Pasti pas mata kuliah bahasa Indonesia ngulangnya berkali-kali nih …hihihihi …

  6. haleygiri said: Ya yen nurutku, salah lah klu ada yg mengatakan takdir seseorang harus mati di tangan penjahat perampok mobil nylonong truk lewat kereta api atawa tangan sendiri…

    betul jeng, takdir manusia untuk menemui kematian, dan itu pasti, tapi perkara bagaimana dia mati, ada berbagai macam ‘pilihan’ atopun jalan

  7. sepasangmatabola said: sekedar penasaran aja, bukannya buruk prasangka. 🙂

    Alhamdulillah Allah menciptakan kita dengan akal budi, dengan akal budi kita bisa memikirkan dan merenungi alam semesta dan kehidupa kita ini sebagai bukti dan tanda-tanda kebesaran Allah. Nggak ada yang salah kok dengan ‘bertanya’, toh bahkan malaikat pun -yg merupakan ciptaan Allah yang paling taat- sempat ‘mempertanyakan’ penciptaan manusia oleh Allah. Hanya memang kita tetap harus memahami bahwa ada hal-hal yg nggak bakalan bisa terjangkau oleh akal kita yg sungguh sanggat terbatas ini, termasuk mungkin masalah takdir ini kali ya ?!Mungkin untuk referensi bisa jeng baca bukunya Agus Mustofa itu…. weeeeh, kok malah jadi ngiklan yoooo….. 🙂

  8. hanyvong said: sudah gak tau harus berdalih apalagi kali. Ini Pasti pas mata kuliah bahasa Indonesia ngulangnya berkali-kali nih …hihihihi …

    ho-oh, kayak orang dah kehabisan akal aja, nggak cerdas banget…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s