Tentang Kakek dan Nenek

Nggak tau pasti dari mana asal usulnya, tapi katanya, katanya nih…. rasa sayang para nenek dan kakek pada cucunya tu melebihi rasa sayang mereka pada anak sendiri… Benarkah ? Hhmmmm…. Kalau diingat-ingat, memang Farhan dulu adalah cucu pertama sekaligus juga ‘pujaan hati’ almarhum mbah Kakungnya. Waktu itu Farhan memang cukup sering melewatkan waktunya bersama mbah Kakung dan mbah Uti-nya di Solo, karena bapak ibunya masih sering direpotkan sama urusan lowongnya jabatan asisten dapur alias gak punya PRT, dan juga urusan gotong-gotong pindah kontrakan.

Jadilah Farhan gusti prabu kecil di rumah mbah-nya. Mbah Uti selalu siap dengan dongengan sebelum tidur yang bisa bikin pendengarnya melongo saking terbuainya ( asli, aku nggak bisa niruin cara ibuku mendongeng ). Juga mbah Kakung yang selalu siap mengantarkan sang gusti prabu kecil jalan-jalan dengan motor ejlek enong ejlek ewer-nya ( itu bunyi motor tua-nya mbah Kakung….. ).

Aku masih ingat betul, gimana hebohnya Farhan -waktu itu masih cedal- kalau mbah Kakungnya pulang kantor, ribut menunjuk2 dengan bangganya sambil bengok-bengok : Tatung ! Tatung ! Tatung !! ( hiks…. Bapakku, semoga berkah Allah menemani Bapak selalu )

Hampir tiap sore mereka bersepeda motor ria. Kadang-kadang pergi nonton sepur, ngejogrok berdua di stasiun Purwosari sampai hampir Maghrib. Atau kalau lagi iseng, mereka berdua nebeng naik kereta ekonomi arah Stasiun Balapan yang kebetulan mampir di Purwosari. Lalu balik lagi dengan kereta ekonomi arah sebaliknya. Belum lagi acara belanja balon di lapangan Manahan tiap Minggu pagi.

Bapakku juga paling sering berkata : Anak kecil -Farhan tentu saja maksudnya- jangan sering dilarang-larang, nanti malah tidak bisa berkembang. Halah, mbah… gimana ibunya nggak rajin teriak-teriak “Jangan !”, kalau pager ma teralis rumah Solo begitu sering dipanjat sama sang bendoro cilik, juga adanya tiga kolam ikan yang seperti memanggil-manggil untuk dikunjungi ( ahirnya dipagerin ma Bapakku ). Belom lagi saat aku girap-girap ketakutan, waktu Farhan dengan riangnya ngumpulin ulet bulu, bagai barang berharga yang pantas dikoleksi…. Hiy !!! Ibuku juga pernah sakit hati berat dan mengancam akan membawa Farhan ke Solo, waktu aku marah besar ke Farhan ( ntah karena apa aku malah sudah lupa ) dan mencubiti pantat Farhan sampai dia nangis njempling2. Hmmmm, para mbah…..

Apakah aku sendiri tidak disayang seperti itu….? Weeee, ya jelas disayang dong, Subhanallah, Alhamdulillah, Bapak Ibuku the best deh buat aku !!. Tapi mungkin tidak sama dengan cara mereka ‘memuja’ cucu mereka. Orang tua mana sih yang tidak kepingin memanjakan anak ? ngajak jalan-jalan hampir tiap hari, beli ini boleh beli itu boleh, minta ini dikasi minta itu dikasi…. Tapi saat aku kecil, mungkin orang tuaku harus menahan diri dan kurang bisa menikmati previlese memanjakan anak. Karena mereka harus berkonsentrasi dan bekerja keras untuk mempersiapkan masa depan kami ( Bapakku bahkan baru selesai mengajar jam sebelas malam ). Dan sekarang, setelah Alhamdulillah kami mandiri, boleh dong mereka sedikit berfoya-foya dengan para cucu….. ya to ? heheheh…. Tapi ini cuma teoriku lho….

22 thoughts on “Tentang Kakek dan Nenek

  1. wakakaka… aku pernah denger nenek ku ngobrol ketemannya ‘rasanya kita kok lebih sayang ke cucu daripada ke anak. kalo anak kita berantem sama anak tetangga , anak kita langsung di tarik dan dimarahin dirumah. klo cucu kita berantem dengan anak orang, bawaannya pengen marahin anak orang’ hehehehe…..bener banget kaos si farhan. klo bokap nyokap bilang engga’ mintalah ke sinenek. PASTI DAPET!

  2. pingkanrizkiarto said: rasa sayang para nenek dan kakek pada cucunya tu melebihi rasa sayang mereka pada anak sendiri… Benarkah ?

    kalau pengalaman sih bener, dikit-dikit ponakanku yang disebut.

  3. pingkanrizkiarto said: cucu-cucu memang pujaan hati buat para kakek dan nenek…

    sama kayak si farhan, ponakanku ini juga cucu pertama, cowok sendiri lagi. Kata mbah uti sama mbah kakung malah bukan cucu tapi malah anak.

  4. cep…cep…cep…. maaf ya, sudah bikin kamu gerung-gerung…. Tapi setidaknya kita sudah punya kenangan kan…? indah to ?! n siapa tau perlu buat referensi, ntar kalo kamu juga sudah jadi simbah-simbah…. Tapi aku sendiri juga sudah nggak punya simbah, hiks……

  5. pingkanrizkiarto said: Tapi aku sendiri juga sudah nggak punya simbah

    aku sempet kecewa gak ketulungan karna gak bisa datang di funerall-nya eyang kakung-ku tersayang itu, gara-gara kesibukan dan jauh. Lama setelah itu, aku pernah ngimpi ketemu beliau, tapi nggak tau maksutnya apa.

  6. Maaf kalau kedengarannya klise, tapi kiriman doa pasti akan sangat membahagiakan eyang kakung-mu……Waktu mbah Uti-ku wafat, aku dgn sejuta alasan, tidak bisa pulang. Lalu pas aku pulang Lebaran, tidak ada lagi mbah Uti…… getun selalu tibo mburi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s