Aku benci lampu merah

Satu siang di Bekasi, lampu merah menyala. Seorang nenek-nenek renta dengan hanya sebelah tangan menawarkan sapu lidi, sebelah tangannya lagi tidak nampak, hanya terlihat pangkal lengan yang kosong. Hatiku nyeri, kuturunkan kaca mobil,
“Berapa Nek ?”
“Sepuluh ribu neng… “
Kuulurkan sepuluh ribuan, kukira aku akan mendapat satu sapu lidi. Tapi nenek-nenek itu mengangsurkan semua, tiga sapu lidi yang dipegang dengan sebelah tangannya yang tersisa.
“Saya cuma beli satu Nek” kataku ragu
“Enggak pa pa neng, tiga-tiganya ini sepuluh ribu” jawab nenek itu
Lalu nenek itu mengucapkan terima kasih yang diteruskan dengan rentetan doa untuk keselamatan dan keberkahan bagiku. Sepuluh ribu untuk tiga sapu lidi, dan untuk doa yang tak ternilai harganya….

Tapi tiba-tiba,
“Ngapain sih beli begituan ?” hmmmmm, teman seperjalananku protes
“Nggak liat kenapa ?” jawabku rada sengak juga
“Sepuluh orang aja seperti kamu, seratus ribu sehari, tiga juta sebulan”
Aku memilih diam
“Gaji pramusiwi saja nggak sampai segitu”
“Nenek2 itu nggak mungkin jadi pramusiwi neng… ” balasku
“Tiga juta sebulan dari sapu lidi begituan” masih saja bersungut-sungut
“Oke, kamu gantian jadi nenek itu, tiga juta sebulan. Mau ?!!”
Huhhhh, menguap semua protes….

Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidak beruntungan orang lain ? Ngomong-ngomong, aku sendirian di mobil, jadi kenalkan, itu tadi sisi diriku yang lain…

Iklan

22 thoughts on “Aku benci lampu merah

  1. ..kalau kita pikirkan, bisa aja nenek2 itu sebenarnya pengemis kaya, punya rumah, punya mobil (seperti saya dengar cerita tentang raja pengemis di sebuah kota – di Indonesia lho..- yang kaya rayaaaa dari ngemis dan mengorganisir pengemis). Tapi ya sudah biar aja, kita kan ikhlas.. kalau toh dia sudah kaya tapi tetep ngemis, ya biar itu jadi beban dan tanggungjawabnya..Ngaten nggih mbak.. ? πŸ™‚

  2. pingkanrizkiarto said: Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidak beruntungan orang lain ? Ngomong-ngomong, aku sendirian di mobil, jadi kenalkan, itu tadi sisi diriku yang lain…

    Gw setuju sama kamu… Salut.. Paling susah memang mengalahkan diri sendiri.. and u’ve done it.. πŸ™‚

  3. pingkanrizkiarto said: Apa susahnya berbagi sedikit keberuntungan kita, untuk ketidak beruntungan orang lain ?

    ya, apa susahnya…jauh lebih baik tangan di atas memberi drpd sebaliknya.. terlepas kita kecele atau gk πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s