Ikhlas

Sometimes surrender means giving up trying to understand and becoming comfortable with not knowing
Eckart Tolle

Ikhlas, ungkapan yang begitu banyak n rasanya juga begitu sering kita dengar. Tapi sudah seberapa jauh kita mendalami dan bahkan menghayati ke-ikhlasan itu ? Benarkah sebagian besar ke-tidak ikhlasan kita adalah akibat dari ke-tidak tahuan kita sendiri ? Bahwa Allah menjadikan hikmah di setiap ‘kejadia buruk’ yang tidak mampu kita terima -dengan ikhlas- ? Bahwa apa yang bagi kita adalah sesuatu yang buruk, jelek, nggak asik, kok gitu sih….ternyata itulah hal yang terbaik buat kita ? Jujur, aku sendiri juga belom sepenuhnya bisa melatih diri untuk surrender, untuk ikhlas.

Nggak sekali dua aku protes bahkan mungkin sedikit menggugat… “Ya Allah, kok begini sih jadinya…”. Saat inipun mungkin aku lagi sedikit ‘diuji’. Aku yang sudah sok perhitungan sejak awal pernikahan, merencanakan hanya akan punya 2 atau paling banyak 3 anak saja. Biasa, itung-itungan manusia…. tapi ya itu, hihihi….. Insya Allah tahun depan bakalan jadi 4 deh…. (Lo genit sih…. kata mbak Tanti, huahahahah… ). Yah, mungkin ini juga ada unsur ‘salah sendiri’ juga sih…. Wis ah, pokoke aku sempet ngungun, marah-marah ( sama siapa coba tebak ? wakakakak… ), gelo, nyesel…. ehm jahat ya ? tapi ya gitu deh… daku ini cuma manusia biasa dengan segenap rencana-sok-tau-nya sendiri….

Terus terang dengan ke-tidak tahuan-ku tentang apa yang ada di depan, aku langsung berhitung ongkos, biaya, resiko, tanggung jawab yang makin besar…. dan ujung2nya : cape deh…. Aku merasa makin tidak nyaman, rencana2, perhitungan2 dan asumsi2 yang harus diubah, membuat aku terjebak dalam rasa marah yang tidak berujung. Ya, aku tahu bahwa banyak orang yang kepengin banget punya anak tapi mpe jungkir balik blom juga punya anak. Ya, aku tahu bahwa anak adalah karunia…. aku nggak mengingkari itu, tapi semua orang juga tahu, anak juga adalah tanggung jawab besoar. Aku ‘berhutang’ hidup pada anak-anakku, aku harus bisa memberikan hidup yang baik, masa depan yang terjamin buat mereka. Dan perhitungan kemampuanku adalah : tiga anak cukup.

Lalu aku nemu kalimat diatas ditulisan Gede Prama ( thx Hilmi ! ). Dan aku sadar, betapa semua rasa tidak nyaman, kemarahan, protes… bersumber pada ketakutan-ku pada status : nggak tau ! Aku yang sudah punya rencana, perhitungan, angan-angan yang ‘pasti’, harus menerima satu unsur diluar rencana… membuat satu ‘kepastian’ menjadi rada gak pasti, hehehe….. ( lah, gitu aja aku kok dah muring2 ya ? ). Seberapa susah ya ? comfortable with not knowing… padahal apa sih yang kita tahu ? Padahal nggak pernah terpikir juga bahwa aku bakalan bisa menikmati hidup yang seperti saat ini kujalani ( ehm, yang ini mah sombong kali ye…. ). Mungkin ada yang bakal ngomong, kamu sih nambah 2 juga masih gpp ( ampyun…. ).

Yah, mpe saat ini, komentar yang dateng juga macem2. Dari yg : Alhamdulillah masih diberi kepercayaan, mpe : Masya Allah, banyak amat… xixixixi…. ya akhirnya sambutanku ya standar aja deh : nyengir…. Alhamdulillah ! Mo nambah anak ato enggak, tetep aku harus terus belajar untuk Ikhlas, tidak menyerah pada rasa takut pada ketidak-tahuan, dan terus mo belajar untuk tidak melewatkan setiap tetes hikmah yang bertebaran di sepanjang hayat dikandung badan-ku ini….. Tetep semangat ! cha yo !

( Tapi mualnya itu lho…. ampun ! Kalo bisa, kupindahin ke bapaknya aja ya ?! )

Iklan

5 thoughts on “Ikhlas

  1. Sedang belajar untuk ikhlas juga Mbak… Tapi ya itu, kita kan juga dianugerahi pikiran untuk mempertimbangkan kemampuan sekaligus harus bertanggung jawab kan? *rada ngeles*

  2. Berhitung dan bertanggung jawab memang kudu n harus, dan tetap Allah-lah pegangan terkuat kita, dan kadang Allah punya ‘cara’ tersendiri untuk menjawab setiap do’a, rencana dan keinginan kita…@Mas Chandra, waduh… saya jadi malu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s