Ruang kosong di Cipayung

Hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dipelukan seorang ibu
Hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
dipangkuan seorang ayah
dari film “Untuk Rheina”

Tadinya aku punya niat untuk ngerayain ulang tahun Faiz di panti
asuhan balita yang di cipayung. Karena gak punya nomer telponnya, aku
lalu nanya ke temen yang punya hobi blusak-blusuk panti asuhan dan
bahkan tahu lokasi panti-panti asuhan yang gak ada di peta. Temenku
bilang ada, n trus dia cerita tentang kunjungan-kunjungannya ke
cipayung itu, dan Ya Allah, maafkan aku, ampuni aku… aku malah jadi
urung, gak punya nyali untuk nerusin niat itu…

Sebenernya temenku itu ga ada niat nakut-nakutin, cuma sekedar jawab
pertanyaanku tentang situasi disana. Ini nih ceritanya : Begitu masuk,
kata temenku itu, di kanan kiri boks bayi berjejer-jejer, serentak
anak-anak itu nangis semua. Berebut minta perhatian, minta digendong.
Tapi pengasuhnya ngelarang, karena akan menimbulkan kerepotan
nantinya. Begitu digendong, mereka tidak akan mau turun… Trus bayangin Ping, anak
bayi umur setahunan gitu, sudah bisa memanipulasi dirinya biar
diperhatiin. Sengaja ngejatuhin diri, dan membenturkan kepalanya
sendiri ke boks… trus nangis, biar disamperin, diajak ngobrol,
digendong…. Kalo kita nyamperin dan ngasih mainan, seneng dan
diterima. Tapi begitu kita beranjak, mainan langsung dibuang, lalu
teriak-teriak sambil nunjuk ke mainan itu, pura-pura kalo mainan itu
jatuh.

Trus temen itu ngelanjutin, “Itulah Ping, kenapa Allah menjanjikan
pahala yang nggak kira-kira, pada orang yang mau menyantuni anak
yatim”. Karena secara kejiwaan, mereka sudah kekurangan, ada ruang
kosong dalam jiwa anak-anak itu. Batin yang nggak lengkap akan kasih
sayang orang tua.Tidak ada ayah yang menjaga dengan cinta, tidak ada
bunda yang siap memberi peluk kehangatan. Sehingga kemungkinan mereka
untuk tumbuh menjadi anak yang ‘sulit’ sangat besar. Bukan cuma
masalah materi, tapi butuh lebih dari segunung kasih sayang dan banyak sekali
kesabaran untuk mengasuh anak-anak seperti itu. Pengasuh-pengasuh
mereka bukanlah orang yang pelit akan kasih sayang, tapi tetap saja
mereka adalah manusia biasa dengan hanya dua tangan, belum lagi jumlah
pengasuh yang nggak sebanding. Dan bagaimanapun juga, mereka bukanlah
ayah-bunda anak-anak itu….

Lalu aku hanya bisa diam, hatiku ciut. Ngadepin satu anak nangis
gerung-gerung aja aku bisa ikut nangis, apalagi belasan, bahkan
puluhan…. Jangan-jangan ntar aku malah jadi nangis bombay disana.
Jadi, aku mundur teratur. Kembali pada posisi semula, hanya bisa sok
jadi sinterklas pada saat-saat tertentu, hanya menyerahkan nominal
yang nggak seberapa. Itupun nggak nyampai-in sendiri, tapi lewat
sodara, lewat lembaga amal…. Itupun mungkin hanya karena sekedar pengin
menggugurkan kewajiban saja.

Padahal ruang kosong dalam jiwa seorang anak, tidak akan bisa ditebus
dengan uang, seberapapun besarnya.

Ya Allah, ampunilah kesempitan hatiku….

Iklan

10 thoughts on “Ruang kosong di Cipayung

  1. Aduh Mbak kasihan banget ya anak-anak itu… Mungkin sedikit bantuan juga sudah lebih baik daripada kurang… Tapi yang betul-betul mereka perlukan ya perhatian dan kasih sayang tulus itu ya Mbak.

  2. Mbak Pink..aku sering ke situ, tapi kayanya anak2 itu gak terlalu seperti cerita temen mbak kok..mereka anak yang biasa aja. kita juga boleh menggendong kalo mau..emang sedih liat mereka aku aja sering harus menyembunyikan tangis. ada beberapa yang cacat. kayanya ibu mereka berusaha menggugurkan kandungannya tapi ga sukses (cacat akibat obat2 peluruh kandungan) ada yang cacatnya fisik ada yang agak terbelakang.) kapan2 mampir aja. gak serem kok. biasa aja…percaya deh.. ibu2 asuhnya juga baik2.. emang agak smelly gitu deh kamarnya..tapi masih bisa dikatakan bersih lah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s